Menlu dorong peran middle powers dalam reformasi multilateralisme

45 menit yang lalu 2

Jakarta (ANTARA) - Menteri Luar Negeri Sugiono mendorong penguatan peran negara berkekuatan menengah atau middle powers dalam reformasi multilateralisme di Pertemuan Menlu ke-30 MIKTA, yang diselenggarakan di sela-sela High-level Week Sidang Majelis Umum ke-81 PBB di New York, Senin.

"Dengan kekuatan kolektif yang kita miliki, MIKTA dapat berkontribusi nyata dalam membentuk masa depan sistem multilateral dan menghadirkan manfaat yang lebih terasa bagi masyarakat," kata Sugiono dalam sebuah keterangan pada Selasa.

Menlu RI menyampaikan apresiasi atas kepemimpinan Australia sebagai Ketua MIKTA 2026 karena telah menjaga produktivitas MIKTA.

Momentum tersebut, menurut Menlu RI, perlu terus dimanfaatkan untuk memperkuat kontribusi MIKTA dalam mendorong sistem multilateral yang lebih efektif dan responsif.

Dalam konteks reformasi PBB, Indonesia menegaskan bahwa reformasi tidak semata mengenai efisiensi, tetapi juga menyangkut legitimasi, efektivitas, dan akuntabilitas.

"MIKTA dapat menjaga kesinambungan inisiatif reformasi yang telah berjalan dan membantu membangun konsensus mengenai peta jalan reformasi dengan arah yang jelas dan mencerminkan visi bersama," jelas Sugiono.

Lebih lanjut, Indonesia menggarisbawahi bahwa kekuatan MIKTA terletak pada kredibilitas dan konsistensi. Keberagaman perspektif dan kawasan negara anggotanya menjadi sumber kredibilitas MIKTA.

Sementara itu, usulan mekanisme negara koordinator untuk isu-isu tertentu dapat memperkuat konsistensi koordinasi MIKTA, sehingga kerja sama dapat berjalan lebih terarah dan solid.

Sugiono mengapresiasi respons cepat MIKTA dalam mengeluarkan pernyataan bersama menyusul serangan terhadap pasukan pemelihara perdamaian Indonesia yang tergabung dalam UNIFIL di Lebanon pada April 2026 lalu.

Menurut Menlu RI, kemampuan merespons perkembangan secara waktu-nyata penting bagi MIKTA untuk menjaga relevansinya.

Beberapa isu lainnya yang menjadi perhatian para Menlu MIKTA di antaranya agenda pembangunan dan kecerdasan buatan (AI).

Menlu RI juga menekankan pentingnya memperluas kerja sama dengan sektor swasta, filantropi, dan mitra strategis lainnya yang dapat membantu menerjemahkan gagasan menjadi aksi.

"Pada akhirnya, kekuatan middle powers hanya akan berarti ketika kita mampu mengubah kekuatan kolektif menjadi dampak yang nyata," ujar Sugiono.

Keketuaan Australia pada MIKTA Tahun 2026 mengusung tema "State of the Multilateral System and the Role of Middle Powers."

Pertemuan Menteri Luar Negeri ke-30 MIKTA turut dihadiri oleh Menteri Luar Negeri negara-negara anggota MIKTA lainnya, yaitu Meksiko, Republik Korea, dan Turki.

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya