Makmur proyeksikan ulasan MSCI di November akan angkat IHSG ke 6.800 

2 jam yang lalu 5
'worst case'-nya untuk Indonesia itu kemungkinan besar akan 'trading within range' saja, mungkin 5.800 sampai 6.100-6.200. Itu akan dikocok saja di situ

Jakarta (ANTARA) - PT Inovasi Finansial Teknologi (Makmur) memperkirakan MSCI akan menerbitkan ulasan yang positif bagi pasar modal Indonesia pada review November 2026, sehingga akan mendorong penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ke level 6.800.

Direktur Makmur, Stefanus Dennis Winarto memproyeksikan untuk beberapa waktu ke depan IHSG masih akan bergerak variatif di rentang 5.800 sampai 6.200

"Menurut saya, worst case-nya untuk Indonesia itu kemungkinan besar akan trading within range saja, mungkin 5.800 sampai 6.100-6.200. Itu akan dikocok saja di situ," ujar Stefanus dalam Media Gatehring Makmur di Jakarta, Selasa.

Namun demikian, Ia optimistis ulasan positif dari MSCI pada November 2026 ditambah menurunnya euforia pasar kecerdasan buatan (AI) global, dapat mendorong penguatan IHSG sampai level 6.800.

"Tetapi kalau katalis yang tadi ya, ada dua kan MSCI dan misalnya ada koreksi dari pasar AI, kemungkinan Itu akan lebih positif lah, mungkin di 6.500, mungkin sampai juga ke 6.800. Kita harus evaluasi terus,” ujar Stefanus.

Sementara untuk nilai tukar rupiah, Stefanus menilai prospeknya lebih sulit diprediksi karena sangat bergantung pada selisih suku bunga (interest rate differential) antara Amerika Serikat (AS) dengan Indonesia.

Ia memproyeksikan nilai tukar Rupiah berpotensi kembali melemah ke level Rp18.200 per dolar AS dipicu oleh tekanan dari faktor eksternal dan domestik.

Menurut dia, kebijakan suku bunga bank sentral AS The Fed akan menjadi salah satu faktor penting yang menentukan arah Rupiah. Apabila The Fed lebih berhati-hati dalam menaikkan suku bunga, tekanan terhadap rupiah berpotensi lebih terjaga.

"Kalau mereka lebih hati-hati menaikkan suku bunga The Fed, artinya rupiahnya pun akan lebih terjaga," ujar Stefanus.

Baca juga: Makmur dorong aktivitas investasi berdampak ke lingkungan-pendidikan

Baca juga: Mandiri proyeksi foreign inflow kembali masuk jelang laporan MSCI

Ia pun memperkirakan tren pelemahan Rupiah masih akan berlanjut dalam jangka panjang, dengan posisi Rupiah akan berada di sekitar Rp17.900 per dolar AS, dan diproyeksikan dapat menyentuh level Rp18.200 dalam enam bulan mendatang.

"Enam bulan ke depan, mungkin di Maret 2027 akan di level Rp18.100-Rp18.200," kata Stefanus.

Ia menjelaskan, tekanan terhadap Rupiah akan berasal dari faktor eksternal maupun internal.

Dari sisi eksternal, tingginya suku bunga AS dan kebijakan bank sentral negara lain menjadi tantangan bagi mata uang domestik. Sementara dari sisi internal, sentimen investor terhadap kondisi dan kebijakan pemerintah turut mempengaruhi tingkat kepercayaan terhadap Indonesia.

Menurut dia, sebagian investor domestik dan pemilik modal besar juga cenderung menahan ekspansi di Indonesia dan mengalihkan sebagian dana ke negara lain seperti Vietnam dan Malaysia yang dinilai memberikan tingkat kepercayaan lebih tinggi.

"Jadi menurut saya dua-duanya," kata Stefanus.

Ia menambahkan kondisi tersebut membuat sebagian pelaku usaha memilih mempertahankan aktivitas bisnis yang sudah ada tanpa meningkatkan investasi secara agresif di Indonesia.

Pada November 2026, MSCI akan merilis Market Classification Review lanjutan dan Semi-Annual Index Review (SAIR) untuk menentukan status pasar modal Indonesia tetap di Emerging Market atau turun ke Frontier Market

Data penutupan perdagangan pada Selasa (06/10) sore, IHSG ditutup menguat 74,07 poin atau 1,21 persen ke posisi 6.192,93. Sementara nilai tukar rupiah ditutup menguat 18,00 poin atau 0,10 persen ke posisi Rp17.899.

Baca juga: BEI yakin MSCI dan FTSE respons positif batas minimum harga saham Rp1

Baca juga: BEI pastikan terus jalin komunikasi dengan MSCI usai tinjauan Agustus

Pewarta: Muhammad Heriyanto
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya