Jakarta, CNN Indonesia --
Dalam perjalanannya sebagai negara yang menampung orang Yahudi dari seluruh dunia, Israel pernah punya sejarah kelam dalam memperlakukan warganya sendiri.
Peristiwa yang terjadi pada 30 Juli 1959 di sebuah kawasan Wadi Salib, adalah bentrok dua komunitas Yahudi yaitu Azkenazi dan Sephardi. Kisah konflik sesama Yahudi itu pun terus membayangi Israel yang rentan mengalami perpecahan dari dalam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Yahudi Azkenazi adalah komunitas yang berasal dari negara-negara Eropa, sementara Sephardi atau Mizrahi kebanyakan dari Timur Tengah, Afrika Utara, Spanyol atau Portugal.
Bentrok ini dipicu oleh kecemburuan sekaligus perlakuan disrkiminasi. Setelah Israel berdiri pada 1948 oleh kaum Yahudi asal Eropa, banyak Yahudi Sephardi yang juga datang ke sana pada periode tahun 1950-an.
Namun bersatunya dua Yahudi dari komunitas berbeda ini, justru menimbulkan konflik.
Pada 1949-1950-an, 50.000 warga Yaman diterbangkan ke Israel oleh Joint dan Jewish Agency.
"Perlakuan buruk yang dilakukan terhadap mereka sangat kejam dan licik. Mereka ditipu hingga kehilangan seluruh tabungan hidup mereka," tulis Miriam Samsonowitz di jewishaction.com.
Mereka diberi tahu, "Pesawat tidak bisa terbang selama kalian masih memegang perhiasan dan uang kalian."
Mereka dibuang di Ma'aborot, pemukiman tenda primitif yang dikelilingi kawat berduri di mana hanya personel sekuler yang diizinkan masuk.
Anak-anak dipisahkan secara paksa dari orang tua mereka, dengan anak-anak yang lebih besar dikirim ke kibbutzim untuk indoktrinasi dan pendidikan sekuler, dan bayi-bayi diculik dan dijual untuk diadopsi di luar negeri atau diadopsi oleh pasangan sekuler di Israel.
Warga Yaman yang miskin itu tidak berdaya karena kaum Mapanik (penguasa) yang sekuler mengendalikan distribusi makanan, pekerjaan, dan perumahan, dan siapa pun yang tidak patuh tidak akan mendapatkan makanan. Mereka tidak mengenal negara dan bahasa tersebut, dan tidak memiliki koneksi atau keluarga untuk membantu.
Awal mula bentrok berdarah
Dampak dari perlakuan diskriminasi oleh Yahudi Eropa ini perlahan namun pasti menimbulkan kebencian. Hinggaa pada suatu hari, pada 9 Juli 1959, polisi Israel menembak dan melukai seorang imigran Yahudi Maroko bernama Yaakov Elkarif yang saat itu sedang mabuk dan membuat keonaran.
Muncul rumor di tengah masyarakat bahwa Yaakov tewas akibat tindakan polisi. Dari sinilah meletus kerusuhan, terutama oleh Yahudi Arab yang sudah lama memendam kekesalan kepada Yahudi Eropa yang banyak duduk di pemerintahan.
Warga Wadi Salib, di kota Haifa, di lereng timur laut bagian bawah Gunung Karmel, mulai berdemonstrasi, membakar mobil, merusak toko, serta menyerang markas partai penguasa (Mapai) dan serikat buruh (Histadrut) yang dianggap sebagai simbol dominasi Ashkenazi.
Kerusuhan ini kemudian meluas ke wilayah lain di Israel pada hari-hari berikutnya, seperti ke Tiberias, Beersheba, dan Migdal HaEmek.
Diskriminasi hingga kini
Peristiwa masa lalu itu masih menyimpan bara hingga kini. Yahudi Sephardi di Israel kurang mendapatkan perlakuan layak. Banyak posisi penting di kabinet, wali kota atua kehakiman masih dipegang oleh Yahudi Azkenazi.
"Diskriminasi dan ketidaksetaraan selalu menjadi praktik umum. Yahudi Barat [Ashkenazi] memandang rendah orang lain. Mereka tidak ingin memberikan kekuasaan kepada kaum Mizrahi. Mereka ingin memenuhi penjara mereka dengan kaum Mizrahi daripada menawarkan pendidikan, budaya, dan bimbingan kepada mereka," kata Pinhas Aloshi, seorang warga Israel keturunan Tunisia.
Yehouda Shenhav, seorang warga Israel keturunan Irak, meyakini bahwa situasi kaum Yahudi Mizrahi generasi ketiga dibandingkan dengan kaum Yahudi Ashkenazi, saat ini lebih buruk daripada 30 tahun yang lalu.
"Pada tahun 1970-an, ada satu orang Mizrahi yang memiliki ijazah sarjana untuk setiap tiga orang Ashkenazi. Empat persen orang Mizrahi mendapatkan ijazah sarjana dibandingkan dengan 16 persen orang Ashkenazi. Saat ini, kesenjangan tersebut telah melebar menjadi sekitar 12 persen dibandingkan dengan 50 persen."
"Saya mengubah identitas saya menjadi orang Israel, bukan orang Arab. Semakin Anda menjauhkan diri dari identitas Arab, semakin besar peluang Anda untuk berintegrasi ke dalam masyarakat Israel. Ini menyedihkan," kata Shenhav dikutip dari Al Jazeera.
(imf/bac)

1 jam yang lalu
2






English (US) ·
Indonesian (ID) ·