Khutbah Jumat: Mencari Rezeki dengan Jujur, Meraih Berkah dalam Hidup

1 jam yang lalu 2

Mencari rezeki dengan cara yang jujur merupakan landasan utama untuk menciptakan kehidupan yang tenang dan penuh makna. Setiap usaha dan transaksi yang dilandasi integritas tidak hanya mendatangkan hasil yang bersih, tetapi juga mengundang keberkahan berlimpah bagi keluarga.


Teks khutbah Jumat berikut ini berjudul “Khutbah Jumat: Mencari Rezeki dengan Jujur, Meraih Berkah dalam Hidup”. Semoga naskah ini bermanfaat dan menjadi pengingat bagi kita semua.


Khutbah I

اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِي أَنْزَلَ الْأَحْكَامَ لِإِمْضَاءِ عِلْمِهِ الْقَدِيْمِ، وَأَجْزَلَ الْإِنْعَامَ لِشَاكِرِ فَضْلِهِ الْعَمِيْمِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْبَرُّ الرَّحِيْمُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ بِالدِّيْنِ الْقَوِيْمِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَفْضَلَ الصَّلاَةِ وَالتَّسْلِيْمِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ الْكَرِيْمِ، إِنِّي أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ الْحَكِيْمِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah.

Pertama-tama, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Khatib berwasiat kepada hadirin sekalian, terutama kepada diri khatib pribadi, agar selalu istiqamah menjalankan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.

Sebab, takwa adalah kunci keberuntungan, baik di dunia maupun di akhirat. Namun, perlu kita pahami bahwa ketakwaan tidak hanya tercermin dalam banyaknya ibadah, zikir, atau puasa. Takwa juga harus tampak dalam kejujuran perkataan, ketulusan niat, dan baiknya perilaku kita sehari-hari.

Untuk itu, takwa tidak boleh berhenti di tempat ibadah. Ia harus hadir dalam setiap aspek kehidupan, baik di lingkungan keluarga, masyarakat, maupun tempat kerja. Sebab, inti ketakwaan adalah menjalankan segala ketaatan sekaligus menjauhi hal-hal yang dilarang oleh Allah SWT.

Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Imam Al-Ghazali dalam kitab Bidayatul Hidayah:

اعْلَمْ أنَّ لِلدِّيْنِ شَطْرَيْنِ، أحَدَهُمَا: تَرْكُ المَنَاهِي، والآخَرُ: فِعْلُ الطَاعَاتِ.. وتَرْكُ المَنَاهِي هُوَ الأَشَدُّ؛ فَإِنَّ الطَّاعَاتِ يَقْدِرُ عَلَيْهَا كُلُّ وَاحِدِِ، وتَرْكُ الشَّهَوَاتِ لاَ يَقْدِرُ عَلَيْهِ إِلاَّ الصِّدِّيْقُوْنَ

Artinya, “Ketahuilah bahwa agama memiliki dua unsur penting: yang pertama adalah meninggalkan segala bentuk larangan, dan yang kedua adalah menjalankan ketaatan. Meninggalkan larangan justru merupakan perkara yang lebih berat. Sebab, menjalankan perintah mampu dilakukan oleh siapa saja, tetapi meninggalkan syahwat hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang sungguh-sungguh mencari ridha Allah.”

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah.

Salah satu wujud ketakwaan yang sangat mendasar dalam kehidupan sehari-hari adalah kejujuran. Sejak kecil, kita sudah diajarkan untuk berkata benar, tidak berbohong kepada orang tua, tidak menipu teman, dan tidak mengambil sesuatu yang bukan hak kita.

Namun, semakin dewasa, kita menyadari bahwa menjaga kejujuran ternyata tidak selalu mudah. Ada orang yang mampu berkata benar selama tidak ada risiko yang mengancam kepentingannya. Namun, ketika kejujuran berpotensi merugikan dirinya, ia justru memilih berbohong. Ada pula yang menuntut orang lain untuk jujur, tetapi membenarkan kebohongan ketika dirinya mendapatkan keuntungan.

Situasi seperti ini semakin terasa ketika kehidupan ekonomi sedang sulit. Harga kebutuhan pokok meningkat, penghasilan tidak selalu mencukupi, sementara kebutuhan hidup terus berjalan. Dalam keadaan seperti itu, sebagian orang mulai tergoda untuk mengabaikan kejujuran. Bahkan, ada yang menganggap kejujuran sebagai idealisme yang tidak lagi relevan, atau sekadar sikap naif yang justru merugikan diri sendiri.

Padahal, justru dalam keadaan sulit seperti inilah ketakwaan kita sedang diuji. Apakah kita tetap memilih jalan yang benar ketika keadaan tidak menguntungkan, atau justru menghalalkan segala cara demi memenuhi kebutuhan hidup?

Allah SWT telah mengingatkan kita melalui firman-Nya:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوْا اللّٰهَ وَكُوْنُوْا مَعَ الصّٰدِقِيْنَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tetaplah bersama orang-orang yang benar!” (QS. At-Taubah: 119).

Ayat ini menjelaskan ketakwaan harus berjalan beriringan dengan kejujuran. Sebab, orang yang bertakwa senantiasa menyadari bahwa Allah Maha Melihat dan Maha Mendengar. Kesadaran inilah yang mendorong seseorang untuk tetap berkata benar dan menjauhi segala bentuk kecurangan, sekalipun tidak ada orang lain yang mengetahuinya.

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah.

Memilih untuk tetap jujur di tengah kesulitan memang bukan perkara mudah. Apalagi ketika kita sedang berjuang memenuhi kebutuhan keluarga dan mencari penghasilan. Terkadang, kejujuran terasa membuat keuntungan datang lebih lambat. Sebaliknya, kecurangan seolah menawarkan jalan pintas untuk mendapatkan hasil yang lebih besar.

Namun, kita perlu ingat bahwa rezeki bukan semata-mata soal jumlah yang berhasil dikumpulkan. Ada keberkahan yang jauh lebih penting untuk kita perjuangkan. Rezeki yang diperoleh dengan cara jujur mungkin tidak selalu banyak, tetapi insyaallah membawa ketenangan dan kebaikan.

Rasulullah SAW bersabda:

التَّاجِرُ الصَّدُوقُ الْأَمِينُ مَعَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ

Artinya, “Pedagang yang jujur dan terpercaya kelak akan bersama para nabi, para shiddiqin, dan para syuhada.” (HR. Imam Tirmidzi).

Hadis ini menunjukkan betapa tingginya kedudukan kejujuran dalam aktivitas mencari rezeki. Bahkan, kejujuran dan amanah dalam berdagang menjadi jalan untuk meraih kedudukan yang mulia di sisi Allah SWT.

Syekh Ali bin Ibrahim menjelaskan bahwa kejujuran dalam berdagang menjadi salah satu sebab datangnya keberkahan. Beliau mengatakan:

وَفِيهِ: أَنَّ الصِّدْقَ سَبَبُ الْبَرَكَةِ، وَالْكَذِبَ سَبَبٌ لِمَحْقِهَا

Artinya, “Di dalam hadis tersebut terdapat pelajaran bahwa sesungguhnya kejujuran adalah sebab datangnya keberkahan, sedangkan kebohongan menjadi sebab hilangnya keberkahan.” (Imam Ali bin Ibrahim, Al-'Uddah fi Syarhil 'Umdah, [Beirut: Darul Basya'ir Al-Islamiyah, 2006], jilid II, hlm. 1091).

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah.

Dari penjelasan tersebut, kita dapat memahami bahwa ketidakjujuran bukan hanya menghilangkan keberkahan rezeki. Lebih dari itu, kecurangan juga dapat merusak hubungan antarsesama manusia dan menjauhkan kita dari tuntunan Rasulullah SAW.

Hal ini tergambar dalam sebuah hadis riwayat Imam Ibnu Abi Syaibah. Dikisahkan, suatu ketika Rasulullah SAW berjalan melewati pasar dan melihat setumpuk bahan makanan. Beliau kemudian memasukkan tangannya ke dalam tumpukan tersebut. Ternyata, bagian dalam makanan itu basah.

Rasulullah pun bertanya kepada penjual, “Apa ini?”

Penjual menjawab, “Makanan ini terkena hujan, wahai Rasulullah.”

Beliau kemudian bertanya, “Mengapa bagian yang basah itu tidak kamu letakkan di atas agar dapat dilihat oleh para pembeli?”

Setelah itu, Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا

Artinya, “Barang siapa menipu kami, maka ia bukan termasuk golongan kami.”

Hadis ini memberikan peringatan agar kita tidak melakukan kecurangan dalam mencari keuntungan. Lantas, apa artinya harta yang melimpah dan penghasilan yang besar jika diperoleh dengan cara menipu? Apa gunanya keuntungan materi jika justru menjauhkan kita dari akhlak yang diajarkan Rasulullah SAW?

Karena itu, meskipun hadis tersebut berbicara tentang praktik perdagangan, pesan kejujurannya berlaku jauh lebih luas. Bukan hanya pedagang, melainkan siapa pun yang bekerja dan mencari nafkah. Apa pun profesinya, setiap pekerjaan harus dijalankan dengan jujur dan penuh tanggung jawab. Jangan sampai keinginan mendapatkan keuntungan justru membuat kita mengabaikan nilai-nilai agama.

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah.

Dari berbagai penjelasan tadi, kita dapat mengambil pelajaran bahwa kejujuran harus tetap dijaga dalam keadaan apa pun. Termasuk ketika ekonomi sedang sulit dan kebutuhan hidup semakin mendesak. Sebab, keberkahan bukan sesuatu yang datang dengan sendirinya. Ia harus diupayakan melalui cara-cara yang diridhai Allah SWT.

Oleh karena itu, marilah kita menjadikan kejujuran sebagai prinsip dalam bekerja dan menjalani kehidupan. Jangan mengukur keberhasilan hanya dari banyaknya harta yang kita kumpulkan. 

Demikian khutbah Jumat siang hari ini. Semoga Allah SWT senantiasa membimbing dan menjaga kita agar tetap berada di jalan yang benar serta menjauhkan kita dari segala bentuk kecurangan dan perbuatan yang dilarang-Nya. Amin ya rabbal alamin.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلَى رِضْوَانِهِ. اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا

أَمَّا بَعْدُ. فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ، إِتَّقُوااللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللّٰهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِى، يَآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلٰيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى
آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمِ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
 

اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِيْ إِلَيْهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِيْ كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ المَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرّٰحِمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَاللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشَآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَاذْكُرُوا اللّٰهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرِ اللّٰهِ أَكْبَرُ

-------------
Abdul Karim Malik, alumni Al-Falah Ploso Kediri, pengurus LBM PCNU Kabupaten Bekasi, dan pengajar di Pondok Pesantren PINK03 Kampung Rukem-Bekasi.

Baca Artikel Selengkapnya