Khutbah Jumat: Isi Hati dengan Maaf, Bukan dengan Dendam

1 jam yang lalu 3

Setiap manusia pasti pernah disakiti. Ada ucapan yang membekas, perlakuan yang mengecewakan, dan kesalahan orang lain yang sulit kita lupakan. Namun, yang menjadi persoalan bukan hanya tentang luka yang kita terima, melainkan tentang apa yang kemudian kita simpan di dalam hati.

Teks khutbah Jumat berikut ini berjudul: “Isi Hati dengan Maaf Bukan dengan Dendam”. Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau bawah artikel ini (pada tampilan desktop). Semoga bermanfaat!

Khutbah I

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَه، يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلَالِ وَجْهِكَ الْكَرِيْمِ وَلِعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ. سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، الْعَالِمُ بِمَوَاقِعِ النُّجُومِ وَأَعْدَادِ الرِّمَالِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الَّذِي هُوَ لِلْعَالَمِينَ عِصْمَةٌ وَثِمَالٌ. صَلَّى اللّٰهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِينَ بِهِمْ يُقْتَدَى فِي الْأَعْمَالِ، صَلَاةً تُنَجِّي مِنَ
الْأَوْزَارِ إِذَا ثَقُلَتْ مِنْهَا الْأَحْمَالُ، وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا مَا هَبَّتِ الْجَنُوبُ وَالشَّمَالُ، وَتَفَيَّأَتِ الظِّلَالُ عَنِ الْيَمِينِ وَالشِّمَالِ. 

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، اِتَّقُوْا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَ اَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ فَقَدْ قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِى كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah 

Hari ini kita berkumpul dalam suasana yang penuh berkah, berkumpul untuk bersama-sama beribadah kepada Allah SWT dalam keadaan yang penuh rasa khidmat dan kekhusyukan. Oleh karena itu, mari bersama-sama kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah Ta’ala dengan tulus, dengan ucapan Alhamdulillah. Karena dengan karunia-Nya kita semua dapat berkumpul dalam keadaan yang sehat. 

Shalawat dan salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah memberikan kita tauladan untuk selalu berbuat baik di setiap kondisi. 

Tak lupa dalam kesempatan ini, khatib berwasiat kepada hadirin sekalian terutama untuk khatib pribadi agar selalu bertakwa kepada Allah Ta’ala. Sebab takwa adalah kunci ketenangan di dunia maupun di akhirat. 

Allah Ta’ala berfirman: 

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ، وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ 
 
 

Artinya: “Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya dan menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang tidak dia duga,” (QS Ath-Thalaq: 2-3).

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Hati ibarat rumah yang Allah titipkan kepada kita. Jika diisi dengan takwa, dzikir, dan prasangka baik, ia akan menjadi rumah yang lapang, bercahaya, dan menenangkan. Namun jika dipenuhi amarah, dendam, curiga, dan buruk sangka, ia akan menjadi rumah yang gelap dan sempit, bahkan pemiliknya sendiri tidak betah tinggal di dalamnya.


Kita begitu rajin mengisi perut dengan makanan, dompet dengan uang, dan rumah dengan berbagai keindahan. Tapi, sudahkah kita mengisi hati dengan takwa, dzikir, maaf, dan prasangka baik? Sebab hati yang terjaga bukan hanya membuat hidup lebih tenang, tetapi juga membawa kita semakin dekat kepada Allah.


Allah Ta’ala berfirman: 


الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ

Artinya: “(yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali 'Imran. Ayat 134)

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Hati yang enggan memaafkan ibarat penjara; ia tidur bersama amarah dan bangun dengan beban. Padahal, kemuliaan bukanlah saat kita mampu membalas, melainkan saat kita mampu melepaskan kesalahan dari hati. Sebab kita lebih membutuhkan ampunan Allah daripada pengakuan manusia. Memaafkan bukan berarti melupakan luka, tetapi memilih untuk tidak lagi hidup di dalamnya.


Allah Ta’ala berfirman:

وَلْيَعْفُوْا وَلْيَصْفَحُوْاۗ اَلَا تُحِبُّوْنَ اَنْ يَّغْفِرَ اللّٰهُ لَكُمْۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Artinya: “Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nur. Ayat 22).

Ayat ini menegaskan untuk selalu memaafkan dan berlapang dada terhadap mereka yang berbuat buruk kepada kita. Sebagaimana yang terjadi kepada sayyidina  Abu Bakar R.A yang memaafkan dan berlapang dada demi mendapat ampunan Allah Ta’ala ketika saudara sepupunya yaitu Mistah berbuat salah dengan ikut larut membicarakan fitnah terhadap putrinya Aisyah R.A. 

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Pemaaf adalah salah satu akhlak mulia Rasulullah yang patut kita teladani. Nabi memaafkan bukan karena lemah dan tak mampu membalas, tetapi karena memiliki kekuatan untuk membalas dan memilih untuk memaafkan. Sebab kemuliaan bukan pada kemampuan membalas, melainkan pada kelapangan hati untuk mengampuni.


Sikap pemaaf Nabi Muhammad ini dijelaskan oleh Syekh Abdurrahman bin Ali ad-Diba'i dalam kitab Maulid ad-Diba’i: 

وَكَانَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْسَنَ النَّاسِ خَلْقًا وَخُلُقًا. وَأَهْدَاهُمْ إِلَى الْحَقِّ طُرُقًا. كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْاٰنُ. وَشِيْمَتُهُ الْغُفْرَانُ. يَنْصَحُ لِلْإِنْسَانِ. وَيَفْسَحُ فِي الْإِحْسَانِ. وَيَعْفُوْ عَنِ الذَّنْبِ إِذَا كَانَ فِيْ حَقِّهٖ وَسَبَبِهِ

Artinya: “Nabi Muhammad SAW adalah sebaik-baiknya manusia dari segi penciptaanya dan pekertinya. Dan memberi petunjuk kejalan yang benar. Akhlaknya adalah Al-Qur’an. Memiliki sifat khusus yaitu pemaaf. Gemar memberi nasehat manusia. Membuat lapang dalam kebaikan. Mudah memaafkan suatu dosa bila dosa itu berkaitan dengan hak dirinya atau sebab dirinya.”

Tidak heran jika dakwah Rasulullah begitu menyentuh hati. Karena manusia tidak hanya mendengar kebenaran dari lisannya, tetapi melihatnya hidup dalam akhlak Nabi. Yang menyakiti Nabi, beliau maafkan. Yang memusuhi, Nabi balas dengan kasih sayang.

Begitulah akhlak Rasulullah, kebenaran yang tidak hanya diucapkan, tetapi juga dicontohkan.
Nabi memiliki kekuatan untuk membalas, tetapi memilih mengampuni. Memiliki alasan untuk membenci, tetapi memilih mencintai. Itulah kemuliaan akhlak Rasulullah, membalas keburukan dengan kebaikan.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Maka di hari yang penuh berkah ini, mari kita amalkan akhlak pemaaf dalam kehidupan sehari-hari: di lingkungan keluarga dengan saling memaafkan sebelum diminta, di lingkungan sosial dengan menahan lisan dan mendoakan bukan membalas, dan di lingkungan kerja dengan melapangkan dada atas kekhilafan orang lain. 

Kita harus selalu ingat pesan Baginda Nabi Muhammad SAW: 

 وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا

Artinya: “Dan tidaklah Allah menambah kepada seorang hamba yang pemaaf kecuali kemuliaan.” (HR. Muslim)

Sungguh memaafkan bukan tanda kelemahan atau kekalahan. Sebab, maaf hanya bisa lahir dari jiwa yang besar. Seseorang yang pemaaf sejatinya tidak hanya sedang menang telak atas musuh-musuhnya tapi juga sukses mengalahkan hawa nafsu di dalam dadanya sendiri. Nafsu yang biasa mendorong manusia untuk meluapkan amarah, melampiaskan dendam, serta merasa paling tinggi dan merendahkan orang.


Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

​​​​​​​

Demikian khutbah singkat pada kesempatan yang mulia ini. Semoga bermanfaat dan menjadikan kita sebagai orang-orang yang dapat meneladani sifat pemaaf Baginda Nabi Muhammad SAW. Aamiin ya rabbal alamin.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ

Khutbah II

الحَمْدُ للهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ، يَا رَبَّنَا لَكَ الحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِي لِجَلَالِ وَجْهِكَ وَعَظِيمِ سُلْطَانِكَ. وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، الَّذِي بَعَثَهُ بِالهُدَى وَدِينِ الحَقِّ، لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ، وَلَوْ كَرِهَ الكَافِرُوْنَ. 

أَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَ اللهِ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ تَعَالَى أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ، وَثَلَّثَ بِكُمْ أَيُّهَا المُؤْمِنُوْنَ، فَقَالَ: "إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِىِّ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا". اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَبَقِيَّةِ الصَّالِحِينَ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ، وَالمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَكَ أَعْدَاءَ الدِّينِ.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ الإِسْلَامِ وَالمُسْلِمِيْنَ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَنَا، أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا، أَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، اِشْفِ مَرْضَانَا، وَارْحَمْ مَوْتَانَا، وَلَا تُخَيِّبْ رَجَاءَنَا، وَاخْتِمْ بِالبَاقِيَاتِ الصَّالِحَاتِ أَعْمَالَنَا. 
 

اللَّهُمَّ اجْعَلْ هَذَا البَلَدَ آمِنًا مُّطْمَئِنًّا. اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الغَلَاءَ وَالوَبَاءَ وَالفَحْشَاءَ وَالمُنْكَرَ وَالشَّدَائِدَ وَالمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا إِنْدُونِيسَا خَاصَّةً، وَسَائِرِ بِلَادِ المُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّآ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ، وَتُبْ عَلَيْنَآ إِنَّكَ أَنتَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُ. رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِى ٱلدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى ٱلْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ.

عِبَادَاللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشَآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَاذْكُرُوا اللّٰهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ.

----------
Abdul Karim Malik, alumni Al-Falah Ploso Kediri, pengurus LBM PCNU Kabupaten Bekasi, dan pengajar di Pondok Pesantren di Kampung Rukem, Tambun Selatan, Bekasi.

Baca Artikel Selengkapnya