Setiap Muslim tentu menginginkan keselamatan, baik ketika menjalani kehidupan di dunia maupun kelak di akhirat. Namun, keselamatan tidak cukup hanya diharapkan. Ada sikap dan kebiasaan yang perlu dijaga dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari mengendalikan ucapan, membiasakan hidup sederhana, hingga menyadari kesalahan dan segera bertobat kepada Allah swt.
Teks khutbah Jumat berikut berjudul "Khutbah Jumat: 3 Pesan Rasulullah untuk Meraih Keselamatan Hidup". Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di bagian atas atau bawah artikel (pada tampilan desktop). Semoga bermanfaat.
Khutbah Pertama
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ فَتَحَ بَابَ التَّوْبَةِ لِلْمُذْنِبِيْنَ، وَوَعَدَ بِحُسْنِ الْعَاقِبَةِ لِلصَّادِقِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِيْنُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَخَلِيْلُهُ إِمَامُ الْمُتَّقِيْنَ، وَقَائِدُ الْغُرِّ الْمُحَجَّلِيْنَ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَإِنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ ۚ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,
Mengawali khutbah yang singkat ini, khatib berwasiat kepada kita semua, terutama kepada diri khatib pribadi, untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan dan keimanan kepada Allah swt dengan menjalankan seluruh kewajiban serta menjauhi segala larangan-Nya dalam setiap keadaan.
Dari sahabat Uqbah bin Amir ra, beliau berkata, "Aku pernah bertanya kepada Rasulullah, 'Wahai Rasulullah, apakah keselamatan itu?'" Rasulullah saw kemudian menjawab:
أَمْسِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ، وَلْيَسَعْكَ بَيْتُكَ، وَابْكِ عَلَى خَطِيْئَتِكَ (رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ)
Artinya, "Jagalah lidahmu, hendaknya rumahmu (beserta isinya) membuatmu merasa cukup, dan tangisilah dosa-dosamu." (HR At-Tirmidzi).
Pertanyaan yang diajukan oleh sahabat Uqbah bin Amir ini lahir dari besarnya semangat beliau dalam mencari kebaikan serta tingginya perhatian beliau untuk menempuh jalan keselamatan, baik di dunia maupun di akhirat.
Inilah karakteristik orang-orang yang cerdas dan berakal sehat, yaitu mereka yang mampu memahami hakikat dunia yang fana dan kehidupan akhirat yang abadi. Karakter mulia mereka digambarkan oleh seorang penyair dalam bait syairnya:
إِنَّ لِلّٰهِ عِبَـــادًا فُطَنًــا طَلَّقُوا الدُّنْيَا وَخَافُوا الْفِتَنَا
نَظَرُوْا فِيْهَا فَلَمَّا عَلِمُوْا أَنَّـهَا لَيْسَـتْ لِحَيٍّ وَطَنَــا
جَعَلُوْهَا لُـجَّةً وَاتَّخَذُوْا صَالِحَ الْأَعْمَالِ فِيْهَا سُفُنَا
Artinya, "Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang cerdas. Mereka meninggalkan pesona dunia karena takut akan fitnahnya. Mereka merenungkan hakikat dunia. Ketika menyadari bahwa dunia bukanlah tempat tinggal abadi bagi makhluk bernyawa, mereka menganggap dunia ini bagaikan lautan yang bergelombang dan menjadikan amal-amal saleh sebagai bahtera penyelamatnya."
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,
Melalui hadits di atas, Rasulullah saw memberikan wasiat mengenai tiga pilar utama keselamatan. Barang siapa mengamalkannya, niscaya ia akan memperoleh derajat kemuliaan. Sebaliknya, siapa yang mengabaikannya dapat terjerumus ke dalam kehinaan. Oleh karena itu, marilah kita renungkan bersama tiga perkara yang diwasiatkan oleh Baginda Nabi dalam hadits tersebut.
Wasiat pertama ialah menjaga lisan. Sabda Nabi saw, "Jagalah lidahmu," merupakan perintah untuk mengendalikan lisan dan tidak menggunakannya kecuali untuk kebaikan.
Begitu banyak dalil Al-Qur'an maupun hadits yang mendorong kita untuk menjaga lisan sekaligus memperingatkan bahaya yang ditimbulkan apabila seseorang tidak mampu mengendalikan ucapannya.
Orang yang berakal akan menjadikan sikap diam sebagai penolong dalam menjaga agamanya. Baginda Nabi saw bersabda:
عَلَيْكَ بِالصَّمْتِ إِلَّا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّهُ مَطْرَدَةٌ لِلشَّيْطَانِ عَنْكَ وَعَوْنٌ لَكَ عَلَى أَمْرِ دِيْنِكَ (رَوَاهُ ابْنُ حِبَّانَ)
Artinya, "Hendaknya engkau memperbanyak diam kecuali untuk kebaikan, karena memperbanyak diam itu akan mengusir setan darimu dan menjadi penolongmu dalam urusan agamamu." (HR Ibnu Hibban).
Apabila seorang hamba telah memiliki keyakinan bahwa setiap perkataannya akan dicatat dalam lembaran amal, sudah semestinya ia bersungguh-sungguh menjaga lisannya dan tidak menggunakannya kecuali untuk kebaikan.
Allah SWT mengingatkan dalam firman-Nya:
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
Artinya, "Tidak ada suatu kata pun yang terucap, melainkan ada di sisinya malaikat pengawas (Raqib dan Atid) yang selalu siap (mencatat)." (QS Qaf: 18).
Raqib dan Atid adalah dua malaikat mulia yang bertugas mencatat segala ucapan manusia ke dalam kitab catatan amal yang kelak akan diserahkan kepada setiap hamba pada hari kiamat.
Allah menggambarkan dahsyatnya peristiwa tersebut dalam firman-Nya:
وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَٰذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا ۚ وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا ۗ وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا
Artinya, "Diletakkanlah kitab (catatan amal pada setiap orang), lalu engkau akan melihat orang yang berdosa merasa ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya. Mereka berkata, 'Betapa celaka kami, kitab apakah ini, tidak meninggalkan yang kecil dan yang besar, kecuali mencatatnya.' Mereka mendapati (semua) apa yang telah mereka kerjakan (tertulis). Tuhanmu tidak menzalimi seorang pun." (QS Al-Kahfi: 49).
Demikian pula dalam surah Al-Jatsiyah ayat 29, Allah swt berfirman:
هَٰذَا كِتَابُنَا يَنْطِقُ عَلَيْكُمْ بِالْحَقِّ ۚ إِنَّا كُنَّا نَسْتَنْسِخُ مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
Artinya, "(Allah berfirman), 'Inilah Kitab (catatan) Kami yang menuturkan kepadamu dengan hak. Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan.'" (QS Al-Jatsiyah: 29).
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,
At-Thabarani meriwayatkan bahwa sahabat Abdullah bin Mas'ud ra pernah menaiki Bukit Shafa. Kemudian, beliau memegang lidahnya sendiri lalu melepaskannya seraya berkata:
يَا لِسَانُ قُلْ خَيْرًا تَغْنَمْ وَاسْكُتْ عَنْ شَرٍّ تَسْلَمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ تَنْدَمَ إِنِّي سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: أَكْثَرُ خَطَايَا ابْنِ آدَمَ مِنْ لِسَانِهِ (رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ)
Artinya, "Wahai lisan! Katakanlah kebaikan, niscaya engkau beruntung, dan diamlah dari keburukan, niscaya engkau selamat sebelum engkau menyesal. Karena sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah saw bersabda, 'Kesalahan paling banyak manusia bersumber dari lidahnya.'" (HR At-Thabarani).
Mengingat begitu besarnya bahaya lisan, sudah menjadi kewajiban bagi setiap Muslim yang berakal untuk senantiasa berhati-hati dan selektif dalam setiap ucapan.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,
Wasiat kedua adalah membiasakan sifat qanaah. Sabda Rasulullah saw, "Hendaknya rumahmu (beserta isinya) membuatmu merasa cukup," mengandung pesan agar kita menyibukkan diri dengan hal-hal yang bermanfaat, terutama beribadah kepada Allah swt, serta membatasi diri dari pergaulan yang tidak mendatangkan kemaslahatan. Wasiat ini juga mengandung pentingnya sifat qanaah, yaitu merasa cukup dan menerima dengan lapang dada apa yang telah Allah karuniakan.
Ketika sifat ini tertanam dalam diri seseorang, hatinya akan menjadi tenteram. Ia akan lebih fokus pada urusan yang bermanfaat dan ridha terhadap segala ketentuan Allah, baik dalam urusan rezeki, anak, harta, tempat tinggal, maupun pasangan hidup. Ia juga akan menjaga jarak dari pergaulan yang tidak memberikan pengaruh baik bagi dirinya maupun orang lain.
Namun, apabila keberadaannya di tengah masyarakat membawa manfaat, maka berbaur untuk membantu kebutuhan kaum Muslimin, memberikan bimbingan, serta menegakkan amar makruf nahi mungkar merupakan ladang pahala yang sangat besar.
Baginda Nabi saw bersabda:
المُؤْمِنُ الَّذِي يُخَالِطُ النَّاسَ وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ خَيْرٌ مِنَ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لَا يُخَالِطُ النَّاسَ وَلَا يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ (رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ فِي الْأَدَبِ الْمُفْرَدِ)
Artinya, "Seorang mukmin yang berbaur dengan manusia lain dan sabar menghadapi gangguan mereka lebih baik daripada mukmin yang tidak berbaur dengan manusia lain dan tidak sabar menghadapi gangguan mereka." (HR Al-Bukhari dalam Al-Adab al-Mufrad).
Dalam sebuah hadits dhaif diriwayatkan:
القَنَاعَةُ كَنْزٌ لَا يَفْنَى
Artinya, "Sifat qanaah adalah harta karun yang tidak akan pernah sirna."
Terkait hal ini, seorang penyair menyampaikan pesan melalui bait syairnya:
هِيَ الْقَنَـاعَةُ فَالْزَمْهَـا تَكُنْ مَلِكًا لَوْ لَـمْ يَكُـنْ لَكَ إِلَّا رَاحَةُ الْبَدَنِ
وَانْظُرْ إِلَى مَنْ حَوَى الدُّنْيَا بِأَجْمَعِهَا هَلْ رَاحَ مِنْهَا بِغَيْرِ الْقُطْنِ وَالْكَفَنِ
Artinya, "Sifat qanaah itu, peganglah erat-erat, niscaya engkau laksana seorang raja, meskipun saat ini engkau tidak memiliki apa-apa selain tubuh yang sehat. Lihatlah orang-orang yang berhasil menggenggam seluruh dunia, apakah ketika ajal menjemput mereka membawa sesuatu selain kapas dan kain kafan?"
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,
Sungguh memprihatinkan fenomena kehidupan saat ini ketika banyak manusia mulai kehilangan sifat qanaah. Sebagian orang terbiasa dengan pola hidup mewah dan berbagai fasilitas yang serba tersedia.
Namun, ketika roda kehidupan berputar dan keadaan ekonomi berubah, mereka kesulitan menerima keadaan. Bahkan, tidak sedikit yang akhirnya melanggar batas-batas syariat dengan mencari rezeki melalui cara-cara yang diharamkan.
Padahal, apabila sifat qanaah tertanam dalam diri, seseorang akan lebih mampu menghadapi perubahan keadaan hidup dengan sabar dan tetap berpegang pada ketentuan agama.
Dalam kitab Gharib al-Hadits karya Ibnu al-Jauzi disebutkan bahwa Sayyidina Umar pernah berpesan:
اِخْشَوْشِنُوْا وَتَمَعْدَدُوْا
Artinya, "Hiduplah dengan bersahaja dan tirulah gaya hidup Ma'add."
Maksudnya, biasakan diri menjalani kehidupan dengan sederhana karena kenikmatan duniawi tidaklah abadi. Adapun ungkapan "gaya hidup Ma'add" merujuk pada Ma'add bin Adnan, salah seorang leluhur Nabi Muhammad saw, yang dikenal dengan kehidupan sederhana, penuh kesahajaan, memiliki etos kerja tinggi, dan terbiasa menghadapi keadaan sulit.
Wasiat terakhir Rasulullah saw, "Tangisilah dosa-dosamu," menunjukkan pentingnya penyesalan atas kesalahan yang pernah dilakukan. Penyesalan merupakan salah satu unsur paling mendasar dalam bertobat. Baginda Nabi saw bersabda:
النَّدَمُ تَوْبَةٌ (رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ)
Artinya, "Penyesalan itu adalah hakikat tobat." (HR Al-Baihaqi).
Rasa penyesalan yang tulus akan menggerakkan hati seorang hamba untuk segera menghentikan perbuatan dosa dan menanamkan tekad yang kuat agar tidak mengulanginya pada masa mendatang.
Ketiganya, yakni menyesali dosa, meninggalkan perbuatan maksiat, dan bertekad tidak mengulanginya, merupakan syarat utama tobat seorang hamba kepada Allah swt.
Namun, apabila dosa yang dilakukan berkaitan dengan hak sesama manusia, terdapat satu syarat tambahan, yaitu mengembalikan hak kepada pemiliknya atau meminta kerelaan dan maaf dari orang yang bersangkutan.
Baginda Rasulullah saw bersabda:
كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ (رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ)
Artinya, "Setiap anak cucu Adam sering berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang senantiasa bertobat." (HR At-Tirmidzi).
Baginda Nabi saw juga bersabda:
المُؤْمِنُ وَاهٍ رَاقِعٌ وَالسَّعِيْدُ مَنْ هَلَكَ عَلَى رَقْعِهِ (رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ)
Artinya, "Seorang mukmin itu terkadang rapuh (terjatuh dalam dosa), tetapi setelah itu ia menambalnya (dengan istigfar dan tobat). Orang yang berbahagia adalah mereka yang wafat dalam keadaan telah memperbaiki kesalahannya dengan bertobat." (HR Al-Baihaqi).
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,
Demikianlah tiga wasiat Rasulullah saw yang dapat menjadi pedoman bagi kita dalam meraih keselamatan hidup, yaitu menjaga lisan, membiasakan sifat qanaah, dan segera bertobat dari segala dosa.
Semoga Allah senantiasa menganugerahkan kepada kita kemampuan untuk menjaga lisan dari perkataan yang buruk, menghiasi diri dengan sifat qanaah, serta membimbing kita menuju tobat nasuha sebelum ajal menjemput. Amin ya Rabbal Alamin.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
Al-Faqir Nur Rohmad, Anggota Tim Ahli Bidang Akidah pada Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur.

1 jam yang lalu
4




English (US) ·
Indonesian (ID) ·