Semarang, NU Online
Di banyak madrasah, pelajaran belum dimulai sebelum anak-anak melantunkan Bismillahi bada’na, walhamdu lirabbina. Sebagian dari mereka sudah hafal sejak TK, sering kali tanpa pernah tahu siapa penyusunnya. Penyusun itu, Drs KH Amdjad Al Hafidz, BSc, MPd, berpulang ke rahmatullah pada Selasa, 3 November 2026, dalam usia 78 tahun. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.
Dilansir NU Online Jateng, Kiai Amdjad lahir di Yogyakarta pada 13 April 1948 dari pasangan H Abdul Mu’thi dan Ibu Duriyah. Wonokromo sebagai tanah kelahirannya. Masa kecilnya jauh dari longgar. Dalam catatan sejarah mujahadah yang ia susun sendiri, ia mengenang hidup di desa dengan himpitan ekonomi. Ia bersekolah sambil membantu orang tuanya mengurus bengkel sepeda motor kecil-kecilan yang penghasilannya jauh dari cukup.
Dari ayahnya pula ia mengenal nada. Ketika masih di sekolah dasar, sang ayah membuatkannya gitar dari kaleng oli, kayu, dan senar, lalu menandainya dengan do-re-mi. Kepekaan yang tumbuh dari mainan sederhana itu, kata Kiai Amdjad dalam wawancara dengan NU Online, ia bawa sampai tua.
Lingkungannya adalah lingkungan pesantren. Nahwu dan sharaf ia terima langsung dari orang tua, lalu ia lanjutkan kepada kiai kawan ayahnya. Alfiyah pun sebagian ia kaji bersama sang ayah. Ia sempat tinggal sebentar di Pesantren Al Munawwir Krapyak, dan dengan rendah hati mengaku terlalu singkat belajar untuk bisa dibilang menguasai kitab-kitab lainnya.
Kiai Lulusan STM Kimia
Jalur sekolahnya tidak lazim bagi seorang kiai. Selepas Sekolah Rakyat dan SMP Negeri 9 di Kotagede, ia masuk Sekolah Teknik Menengah jurusan Kimia Industri. Praktik kerjanya di pabrik kertas di Yogyakarta, mengikuti proses koran bekas diolah menjadi karton untuk kemasan obat pada masa plastik belum lazim. Ia kemudian kuliah di Akademi Keuangan dan Perbankan, menyelesaikan S1 di Institut Islam Walisembilan, dan menempuh S2 Manajemen Pendidikan di Universitas Negeri Semarang.
Perantauan membawanya ke Semarang, kota tempat ia menghafalkan Al-Qur’an dan menetap di Perumnas Tlogosari. Ia mengabdi sebagai dosen Universitas Wahid Hasyim, pengasuh Pesantren Luhur Wahid Hasyim, dan tercatat sebagai Ketua Majelis Ilmi Jam’iyyatul Qurra wal Huffazh NU Jawa Tengah. Menoleh ke belakang, ia menyebut rumus-rumus kimia yang dulu dipelajarinya ternyata banyak membantu. Sementara itu, dua bekal masa kecilnya, nada dan nahwu, kelak bertemu dalam satu karya.
Dari Mujahadah Menjadi Nadham
Pada 1990-an ia memimpin jamaah mujahadah yang membaca doa-doa untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Pada Juni 1999 ia mengajak jamaah mengamalkan Asmaul Husna. Mujahadah itu ia kenang bermula di Masjid Haudlul Jannah, Taman Bledak Kantil, setiap Sabtu malam Ahad pukul 22.00, dengan 25 peserta dan bacaan Asmaul Husna tujuh kali. Menurut penuturannya, jamaah yang semula tertekan berangsur tenang, meski keadaan lahiriah mereka belum berubah.
Persoalannya, lagu-lagu keagamaan berirama datar kurang diminati. Maka Asmaul Husna ia beri pembuka dan doa penutup dalam bentuk syiiran, agar mudah diamalkan dan dihafalkan. Penyusunannya berlangsung sekitar satu bulan, diperbaiki sambil jalan setiap kali ada bacaan yang kurang pas dengan irama. Kiai Amdjad menilai bekal nahwu-sharaf dari ayahnya itulah yang membuat pilihan bahasanya tepat. Telinga musik memberi irama, ilmu alat menjaga lafalnya.
Karya itu berpijak pada perintah berdoa dengan nama-nama Allah:
وَلِلّٰهِ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰى فَادْعُوْهُ بِهَاۖ
“Allah memiliki Asmaul Husna, maka berdoalah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama itu.” (QS Al-A’raf [7]: 180)
Kiai Amdjad juga kerap mengingatkan jamaah pada sabda Nabi saw:
إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا، مِائَةً إِلَّا وَاحِدًا، مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ
“Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu. Siapa yang menghitungnya akan masuk surga.” (HR Bukhari dan Muslim)
Menyebar lewat Mahasiswa, Sampai Mancanegara
Nadham itu menyebar dari kampus ke kampung. Mahasiswa Unwahas membawanya pulang ke kampung masing-masing, lalu jam’iyah di pelosok desa melantunkannya. Prof Noor Achmad pernah mengenang, pada masa awal Unwahas belum memiliki gedung, istighotsah Asmaul Husna dibacakan Kiai Amdjad. Pada awal 2013, NU Online melaporkan nadham ini dibaca di madrasah-madrasah NU Kudus dari TK/TPQ hingga MA/SMA.
Dari sana jangkauannya melebar. Kiai Amdjad bercerita, santri di Hongkong dan Taiwan mengamalkannya melalui ponsel, sementara jalur umrah dan haji membawanya ke Tanah Arab. Ia tetap berkeliling memimpin mujahadah sampai usia senja, termasuk mujahadah kubro di Majenang, Cilacap, dalam rangkaian peringatan Satu Abad NU yang dihadiri puluhan ribu jamaah, serta di Masjid Agung Semarang pada Agustus 2023. Ijazahnya ringkas dan terbuka: ia mengijazahkan, jamaah menjawab qabiltu ijazataka.
Karya lainnya antara lain nadham Asma’un Nabi yang merangkai 201 sebutan Nabi Muhammad saw dari Dalailul Khairat, Syiir Iling Kubur, serta buku Keistimewaan dan Peranan Al Asmaul Husna di Zaman Modern, 33 Tanya Jawab Al Asmaul Husna, dan Ilmu Tajwid dan Ghorib Al Quran. Nadham Asmaul Husna juga termuat dalam Quran NU Online atas restu beliau.
Pesan Kiai Amdjad nyaris tidak pernah berubah, dan sengaja dibuat mudah dijalankan: bacalah Asmaul Husna, sedikitnya sekali setiap selesai shalat, dan jangan berhenti. Dalam bukunya ia menulis bahwa belajar bahasa Arab itu mudah, yang sulit adalah istiqamahnya. Kalimat itu rasanya berlaku juga untuk perjalanan hidupnya sendiri, dari bengkel kecil di Yogyakarta hingga majelis-majelis yang ia pimpin di usia senja.

1 jam yang lalu
1



English (US) ·
Indonesian (ID) ·