Ketua PCNU Lhokseumawe: Kitab Kuning Fondasi Keilmuan dan Identitas Santri

1 jam yang lalu 4

Lhokseumawe, NU Online

Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Lhokseumawe, Tgk. M. Rizwan Haji Ali, menegaskan pentingnya penguasaan kitab kuning sebagai fondasi keilmuan sekaligus identitas santri dalam tradisi pendidikan pesantren. Hal tersebut disampaikannya saat memberikan materi tentang turats dalam Pelatihan Musabaqah Qiraatil Kutub bagi santri se-Kota Lhokseumawe, Kamis (5/11/2026).

Kegiatan yang diselenggarakan Dinas Syariat Islam dan Pendidikan Dayah Kota Lhokseumawe tersebut merupakan bagian dari upaya meningkatkan kapasitas santri dalam membaca, memahami, dan mengkaji kitab-kitab klasik keislaman yang menjadi warisan intelektual para ulama.

Dalam pemaparannya, Tgk. Rizwan menjelaskan bahwa kitab kuning merupakan kumpulan karya ulama muktabar yang selama berabad-abad menjadi rujukan utama dalam sistem pendidikan dayah dan pesantren di Nusantara, khususnya dalam tradisi keilmuan Islam Ahlussunnah wal Jamaah.

Menurutnya, keberadaan kitab kuning di lingkungan dayah Aceh tidak terlepas dari proses transmisi dan seleksi keilmuan yang dilakukan para ulama. Berbagai karya ulama terdahulu, terutama dalam tradisi Mazhab Syafi'i, dipelajari, ditelaah, dan diwariskan sebagai bagian dari kurikulum pendidikan dayah.

"Kitab kuning bukan sekadar buku yang dibaca santri, melainkan warisan keilmuan yang memiliki kesinambungan sanad. Di dalamnya terdapat mata rantai keilmuan yang menghubungkan para ulama dengan imam mazhab, para sahabat, hingga Rasulullah SAW," jelasnya.

Alumnus Dayah MUDI Samalanga itu menambahkan bahwa karakteristik utama tradisi turats terletak pada kesinambungan transmisi ilmu, metodologi pengkajian, serta otoritas keilmuan yang dibangun melalui proses belajar kepada para guru dan ulama.

Kitab Kuning sebagai Identitas Santri

Lebih lanjut, Tgk. Rizwan menekankan bahwa penguasaan kitab kuning merupakan kompetensi mendasar yang harus dimiliki setiap santri. Kemampuan membaca kitab tidak cukup hanya diukur dari kelancaran melafalkan teks Arab tanpa harakat, tetapi juga harus disertai pemahaman terhadap kandungan, konteks, dan metodologi keilmuan yang digunakan para penulisnya.

"Penguasaan kitab kuning merupakan hal yang sangat penting bagi santri. Kitab kuning bukan sekadar bahan bacaan, tetapi telah menjadi bagian dari identitas dan karakteristik santri serta unsur penting dalam tradisi pesantren," ungkapnya.

Ia juga mengaitkan kedudukan kitab kuning dengan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren. Regulasi tersebut menegaskan posisi pesantren sebagai lembaga pendidikan yang memiliki kekhasan tersendiri, termasuk tradisi pengkajian kitab kuning atau dirasah Islamiyah dengan pola pendidikan muallimin.

Menurutnya, penguatan tradisi pengkajian kitab kuning perlu terus dilakukan agar santri tidak hanya mewarisi teks-teks klasik, tetapi juga mampu memahami kedalaman pemikiran para ulama dan mengontekstualisasikannya dalam kehidupan masyarakat.

Ilmu Agama dan Ilmu Alat Harus Berjalan Seimbang

Dalam kesempatan tersebut, Ketua PCNU Lhokseumawe itu juga menjelaskan bahwa khazanah keilmuan dalam kitab kuning tidak hanya mencakup ilmu-ilmu agama (ulum al-diniyah), seperti tauhid, fikih, dan tasawuf, tetapi juga ilmu-ilmu pendukung dan rasional (ulum al-aqliyah), seperti nahwu, sharaf, balaghah, logika, dan berbagai disiplin ilmu bahasa.

Kedua rumpun keilmuan tersebut, kata dia, memiliki hubungan yang tidak dapat dipisahkan. Ilmu agama menjadi landasan substantif dalam memahami ajaran Islam, sedangkan ilmu alat berfungsi sebagai perangkat metodologis untuk menelaah teks-teks turats secara benar dan mendalam.

"Oleh karena itu, santri perlu menguasai kedua bidang keilmuan tersebut. Kemampuan membaca kitab harus diikuti dengan kemampuan memahami substansi dan metodologi keilmuan yang terkandung di dalamnya," tambahnya.

Ia berharap pelatihan Musabaqah Qiraatil Kutub tidak hanya berorientasi pada kemampuan santri mengikuti perlombaan, tetapi juga menjadi momentum untuk menumbuhkan kecintaan terhadap kitab kuning dan memperkuat tradisi intelektual dayah.

Kegiatan tersebut turut menghadirkan pemateri lainnya, yakni Sekretaris PCNU Kota Lhokseumawe, Tgk. Taufikurrahmi, M.Pd., serta Kepala Dinas Syariat Islam dan Pendidikan Dayah Kota Lhokseumawe.

Melalui pelatihan ini, diharapkan lahir generasi santri yang tidak hanya terampil membaca kitab kuning, tetapi juga memiliki kedalaman pemahaman agama, penguasaan metodologi keilmuan, serta kemampuan menjaga kesinambungan tradisi intelektual ulama di Aceh.

Baca Artikel Selengkapnya