REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Sejumlah kandidat Partai Republik mulai menunjukkan perbedaan sikap dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menjelang pemilu paruh waktu pada 3 November 2026. Perang Iran yang telah berlangsung hampir tujuh bulan dan tekanan harga bahan bakar menjadi isu utama yang mendorong sejumlah kandidat mengambil posisi berbeda dari Gedung Putih.
Perubahan sikap itu terlihat terutama di negara-negara bagian dengan persaingan ketat. Kandidat Senat Partai Republik di Michigan, Mike Rogers, dan kandidat Senat di Iowa, Ashley Hinson, sama-sama menyerukan agar perang Iran segera diakhiri setelah sebelumnya mendukung kewenangan Trump dalam menjalankan operasi militer terhadap Teheran.
“Perang dengan Iran harus berakhir, dan berakhir dengan cepat,” kata Rogers dalam video kampanye yang dirilisnya.
Rogers mengaitkan berakhirnya perang dengan kemungkinan turunnya biaya energi yang kini membebani masyarakat AS. Ia juga menyerukan penghentian sementara pajak bahan bakar di tingkat negara bagian dan federal serta penghentian sementara ekspor diesel AS.
Perubahan posisi Rogers menjadi perhatian karena sebelumnya ia mendukung serangan Trump terhadap Iran. Dalam wawancara pada akhir Juli, Rogers juga menentang upaya membatasi kewenangan presiden melanjutkan konflik ketika pemerintahan Trump tengah berupaya mengakhirinya melalui perundingan.
Nada serupa muncul dari Hinson. Anggota DPR AS yang kini mencalonkan diri sebagai senator Iowa tersebut mengatakan masyarakat di negara bagiannya tidak seharusnya menanggung kenaikan biaya akibat perang.
Hinson menyerukan agar perang segera diselesaikan dan mengusulkan sejumlah langkah untuk menekan harga energi. Sikap tersebut cukup menonjol karena Hinson sebelumnya enam kali menolak langkah DPR yang berupaya membatasi kewenangan Trump dalam melanjutkan perang Iran.
Tekanan terhadap Trump tidak hanya terlihat dari pernyataan kandidat. Pada pekan lalu, tujuh anggota DPR dari Partai Republik bergabung dengan Demokrat dalam mendukung resolusi yang membatasi kemampuan Trump melakukan tindakan militer lebih lanjut terhadap Iran tanpa persetujuan Kongres.
DPR mengesahkan resolusi itu dengan suara 220 berbanding 204. Jumlah anggota Republik yang mendukung pembatasan tersebut lebih banyak dibandingkan dua upaya serupa pada Juni dan Juli.
Di antara mereka terdapat dua anggota DPR asal Iowa, Zach Nunn dan Mariannette Miller-Meeks. Keduanya menghadapi pertarungan ketat untuk mempertahankan kursi pada November dan sebelumnya mengambil posisi berbeda dalam pemungutan suara mengenai kewenangan perang Trump.
Harga Energi Membayangi
Perubahan sikap sejumlah politikus Republik terjadi ketika dampak ekonomi perang semakin dirasakan masyarakat AS. Konflik Iran telah mengganggu pasokan energi dan mendorong harga bahan bakar naik, termasuk harga diesel yang menembus tingkat tertinggi sepanjang sejarah di Amerika Serikat.
Reuters melaporkan harga eceran diesel AS pada September menembus enam dolar AS per galon untuk pertama kalinya. Persediaan diesel AS juga turun menjadi 107,9 juta barel per 11 September, tingkat terendah untuk periode tersebut sejak pencatatan dimulai pada 1982.

54 menit yang lalu
4






English (US) ·
Indonesian (ID) ·