Jumlah Korban Tewas di Gaza Terus Melonjak, Kini Tembus 74.640 Jiwa

52 menit yang lalu 3

Jakarta, CNN Indonesia --

Jumlah korban tewas dan luka akibat serangan Israel ke wilayah Gaza, Palestina, masih terus bertambah meski sudah ada kesepakatan senjata.

Mengutip dari kantor berita Palestina, Wafa, jumlah korban tewas akibat agresi Israel di Jalur Gaza telah melonjak menjadi 74.640 jiwa sejak Oktober 2023. Berdasarkan keterangan otoritas medis Palestina, total ada setidaknya 175.947 orang terluka.

Dalam berita terbaru pada Sabtu (7/11) ini, Wafa mewartakan rumah sakit di seluruh Jalur Gaza telah menerima sepuluh korban tewas, bersama dengan 22 orang terluka selama 48 jam terakhir.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mereka menyatakan sejak gencatan senjata berlaku pada 11 Oktober 2026, jumlah warga Palestina yang tewas dalam serangan udara dan tembakan Israel telah mencapai 1.610.

Sementara jumlah korban luka telah meningkat menjadi 5.819. Sebanyak 849 jenazah juga telah ditemukan dari bawah reruntuhan.

"Ribuan korban masih terjebak di bawah bangunan yang runtuh dan di jalan-jalan, sementara tim ambulans dan penyelamat masih belum dapat menjangkau mereka," demikian diberitakan.

UNRWA

Sementara itu, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) António Guterres menegaskan kembali komitmen penuhnya untuk mendukung Badan PBB yang mengurus bantuan kemanusiaan dan pengungsi di Palestina (UNRWA).

Dia juga mendorong anggaran untuk operasional UNRWA itu tak dipotong.

Penegasan komitmen Guterres itu diungkap Juru Bicara PBB Stephane Dujarric kepada wartawan, Jumat (6/11) malam seperti dikutip dari Anadolu.

"Bisa saya katakan kepada Anda sekalian bahwa sekretaris jenderal sepenuhnya berkomitmen untuk membela UNRWA dalam menjalankan peran fundamentalnya dalam mendukung pengungsi Palestina," ujar Dujarric.

Menurut juru bicara PBB, Guterres menegaskan dorongan pendanaan penuh buat UNRWA.

"Beliau sekali lagi menyerukan agar pekerjaan penting UNRWA didanai sepenuhnya," imbuhnya.

Hal tersebut disampaikannya menyusul pernyataan resmi UNRWA sehari sebelumnya, Kamis (5/11), yang mengungkap tekanan anggaran lembaga tersebut. Tekanan terhadap kemampuan anggaran UNRWA itu disebut belum pernah terjadi sebelumnya.

"Kondisi operasional yang semakin ketat mengancam kemampuannya untuk mempertahankan layanan-layanan penting," demikian pernyataan badan itu.

Badan tersebut mengatakan saat ini menghadapi defisit arus kas sebesar US$80 juta (sekitar Rp1,4 triliun), sementara kewajiban yang terakumulasi dan kewajiban keuangan yang berulang menimbulkan tantangan jangka panjang bagi keberlanjutannya.

Terutama, dalam beberapa tahun terakhir, Israel telah menimbulkan beberapa tantangan hukum, administratif, dan praktis bagi UNRWA untuk melanjutkan pekerjaannya di wilayah Palestina yang diduduki.

UNRWA juga menuntut agar lembaga tersebut dapat terus memainkan peran pentingnya dalam mendukung pengungsi Palestina.

(kid/tim)

Baca Artikel Selengkapnya