Jakarta, CNN Indonesia --
Pemerintah Israel secara sepihak mencabut izin masuk rombongan aktivis Yahudi asal Amerika Serikat (AS) yang terlibat dalam aksi protes membela warga Palestina di Tepi Barat yang diduduki.
Menurut laporan media publikasi Yahudi AS, The Forward, pencabutan izin itu dikirim oleh Israel melalui surat elektronik atau email.
Salah seorang aktivis, Sam Sherman, mengungkapkan bahwa ia menerima surat elektronik pembatalan izin perjalanan saat tengah mengikuti program sukarelawan selama tujuh pekan di area Masafer Yatta, Tepi Barat, untuk mendampingi warga lokal Palestina dari gempuran pemukim Yahudi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Surat pembatalan itu diterima oleh saya dan beberapa rekan dalam kelompok kami hampir bersamaan, hanya berselisih beberapa menit," ujar Sherman, seperti dilansir Anadolu.
Sherman menceritakan bahwa aparat militer, polisi, serta pemukim bersenjata sempat memfoto paspor miliknya saat terjadi konfrontasi di lapangan.
"Kami berada di sana pada dasarnya hanya untuk bersosialisasi dan mendampingi warga. Namun, kami diperlakukan seolah-olah keberadaan kami di sana adalah sebuah tindak kriminal," tambahnya.
Sherman menyebut para aktivis senior memberitahunya bahwa ia kemungkinan besar tidak akan diizinkan kembali memasuki wilayah Israel di masa depan, kecuali jika ia memutuskan untuk pindah dan menetap secara permanen.
"Jika saya dianggap sebagai 'jenis orang Yahudi yang salah' bagi Israel," ujar Sherman dengan nada sindiran, "ya sudah, baguslah."
Hingga saat ini, otoritas Israel belum memberikan penjelasan resmi terkait alasan di baliknya pencabutan izin masuk para aktivis Yahudi AS tersebut.
Insiden ini terjadi di tengah maraknya gelombang kekerasan yang dilancarkan pemukim Israel terhadap warga Palestina beserta properti mereka di Tepi Barat.
Data resmi otoritas Palestina mencatat para pemukim Israel telah melakukan sedikitnya 3.488 kali serangan terhadap warga Palestina dan aset milik mereka sepanjang semester pertama tahun 2026.
Bentuk aksi pengrusakan dan perampasan tersebut meliputi penganiayaan fisik, pengerusakan pemukiman, pembangunan pos-pos pemukiman baru yang ilegal, hingga tindakan intimidasi yang menghalangi para petani Palestina untuk menggarap lahan pertanian mereka sendiri.
(wiw)

1 jam yang lalu
1







English (US) ·
Indonesian (ID) ·