Terhitung sejak tanggal 1 Januari 2026 hingga 1 Oktober 2026, versi data Badan Nasional Penanggulan Bencana (BNPB), dampak bencana alam di Indonesia telah mengakibatkan 419 jiwa meninggal dunia, 3.253 jiwa luka-luka, 14 orang hilang, 5.472.950 mengungsi, 29.182 rumah rusak berat, 24.552 rumah rusak sedang, 60.527 rumah rusak ringan, dan 4.391 fasilitas umum rusak.
Semua akumulasi di muka diakibatkan oleh bencana alam meliputi gempa bumi, kebakaran hutan dan lahan, angin kencang atau cuaca ekstrem, banjir, dan kekeringan yang terjadi di sejumlah daerah di Indonesia. Semua jumlah terdampak tersebut adalah jumlah yang terakomodasi di data BNPB. Kemungkinan besar jumlah terdampak melebihi angka yang telah disebutkan dengan tambahan yang tidak terdata.
Dari angka-angka di atas kita dapat membayangkan keadaan keluarga yang ditinggalkan, para istri yang ditinggalkan suaminya, anak-anak yang merenung di pengungsian karena kedua orang tuanya tiba-tiba hilang, para orang tua yang kehilangan anak tersayangnya, para keluarga yang sedang meratapi tempat tinggalnya rusak, belum bisa ditempati, dan perasaan sedih lainnya yang membuat mereka semua dilanda kesepian yang sangat mendalam akibat terdampak bencana alam.
Oleh sebab itu, mari kita beramal baik dengan cara hadir di tengah-tengah mereka yang sedang merasakan kesedihan, kesulitan, dan kesepian yang amat mendalam. Beramal baik tidak terbatas pada bersujud di sajadah. Hadir untuk orang lain, terutama untuk mereka yang sedang tertimpa musibah merupakan amal baik yang tidak kalah penting dan utama.
Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Ma'idah ayat 2:
وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ
Artinya: "Tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksaan-Nya." (QS. Al-Ma'idah [5]: 2).
Imam Az-Zamakhsyari menjabarkan makna kata “al-bir” dan “At-taqwa. Ia mengatakan bahwa kebaikan dan ketakwaan bersifat umum. Mari simak penjelasan berikut:
وَشَرَحَ الزَّمَخْشَرِيُّ الْبِرَّ وَالتَّقْوَى بِالْعَفْوِ وَالْإِغْضَاءِ، قَالَ: وَيَجُوزُ أَنْ يُرَادَ الْعُمُومُ لِكُلِّ بِرٍّ وَتَقْوَى، فَيَتَنَاوَلُ الْعَفْوَ انْتَهَى
Artinya, "Imam Az-Zamakhsyari menafsiri kata 'al-bir' dan 'at-taqwa' dengan memaafkan dan mendiamkan. Ia berkata, boleh juga dimaknai sebagai kata umum pada setiap kebaikan dan ketakwaan. Maka, makna memaafkan sudah termasuk ke dalam keumuman makna tersebut." (Imam Abu Hayyan, Al-Bahrul Muhith, [Beirut: Darul Fiqr, 1420 H], jilid IV, hlm. 170).
Selain ayat ini, hal yang menunjukkan begitu pentingnya hadir untuk orang lain, terutama untuk mereka yang tertimpa musibah nampak jelas dari hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah. Rasulullah SAW bersabda:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ
Artinya, "Rasulullah SAW bersabda: Barangsiapa menghilangkan kesusahan seorang muslim di dunia maka Allah akan menghilangkan kesusahannya pada hari kiamat. Barangsiapa menutupi aib seorang muslim di dunia maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Barangsiapa memudahkan seorang muslim maka Allah akan memudahkannya di dunia dan akhirat. Allah akan menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya." (HR. Imam Ibnu Majah).
Kata "kurbah" dalam hadits ini, sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Muhammad Abdurrahman, bermakna kesedihan atau kesusahan, baik kesedihan ringan maupun berat. Sementara itu, kata "naffasa" bermakna menghilangkan atau memberi kebahagiaan. (Syekh Muhammad Abdurrahman, Tuhfatul Ahwadzi, [Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyah, 1353 H], jilid IV, hlm. 574).
Lebih lanjut, Syekh Muhammad Abdurrahman juga menegaskan bahwa hadits ini merupakan keutamaan menolong saudara kita, terutama bagi mereka yang sedang kesulitan. Entah bentuk pertolongan itu menghilangkan kesusahan atau memberi sebuah kemanfaatan seperti kebahagiaan.
Mari simak penjelasan berikut:
وفِيهِ تَنْبِيهٌ نَبِيهٌ عَلَى فَضِيلَةِ عَوْنِ الْأَخِ عَلَى أُمُورِهِ وَإِشَارَةٌ إِلَى أَنَّ الْمُكَافَأَةَ عَلَيْهَا بِجِنْسِهَا مِنَ الْعِنَايَةِ الْإِلَهِيَّةِ سَوَاءٌ كَانَ بِقَلْبِهِ أَوْ بَدَنِهِ أَوْ بِهِمَا لِدَفْعِ الْمَضَارِّ أَوْ جَلْبِ الْمَنَافِعِ إِذِ الْكُلُّ عَوْنٌ
Artinya, "Di dalam hadits tersebut mengandung sebuah peringatan bijaksana atas keutamaan menolong saudara (hamba Allah) untuk menyelesaikan urusannya (masalahnya). Dan hadits tersebut juga mengisyaratkan bahwa balasan serupa (kepada penolongnya) termasuk dari pertolongan ilahi.
"Baik dia menolong dengan hati atau badannya, atau dengan keduanya. Menolong untuk menghilangkan kemudaratan atau memberi sebuah kemanfaatan, karena semuanya itu bentuk pertolongan." (Lihat: Tuhfatul Ahwadzi/jilid IV, hlm. 575).
Sementara itu, Imam Ibnu Hajar Al-Haitami menjelaskan contoh konkret cara memudahkan urusan orang sedang kesulitan, misalnya dengan cara membebaskan tanggungan, pemberian, sedekah, memberikan tenggang waktu kelapangan (pembayaran hutang) dengan diri sendiri atau perantara, hal ini juga bisa memasukkan contoh fatwa terhadap orang awam. Fatwa yang bisa menyelesaikan permasalahan-permasalahan agama orang awam. (Lihat: Al-Fathul Mubin bi Syarhil Arbain, [Arab Saudi: Darul Minhaj, 2008], hlm. 517).
Dalam konteks keindonesiaan, bagi kita yang dekat dengan tenda pengungsian, silakan hadir di sana walaupun hanya sekedar menyapa, memberi support moral, dan jika memiliki kelapangan rezeki berupa materi bisa disisihkan untuk mereka.
Kita yang memiliki kamar kosong untuk ditempati, sedangkan ada tetangga yang rumahnya rusak parah hingga tidak bisa ditempati, mari kita persilahkan untuk tinggal sementara.
Bagi kita yang jauh, bisa menyisihkan rezeki kita dengan disumbangkan kepada para relawan atau komunitas yang memang mendalang dana untuk mereka yang terdampak bencana alam ini, atau paling tidak jika belum ada kelapangan rezeki bisa dengan meluangkan waktu untuk berdoa untuk mereka. Semoga mereka diberikan ketabahan, kesabaran untuk menghadapi kesulitan yang menimpa mereka.
Mari kita menabur kebaikan berupa hadir di tengah-tengah mereka yang sedang tertimpa kesedihan atau memberi secercah harapan, kebahagiaan untuk mereka yang kehilangan orang tua, anak, rumahnya rusak, dan kesedihan lainnya.
Kehadiran kita di tengah-tengah mereka yang kesulitan, meskipun hanya memberi senyuman atau materi sekecil ujung jari, tidak hanya bermanfaat bagi mereka tapi juga ada balasannya, bahkan tidak hanya di dunia tapi juga akan dibalas kelak di akhirat. Tentu balasan kebaikan juga. Tidak ada satu kebaikan kecuali Allah SWT membalas dengan kebaikan juga. Wallâhu a'lam bis-shawâb.
Ustadz Syifaul Qulub Amin, alumnus PP Nurul Cholil, Perumus LBM Nurul Cholil, dan Pengajar di Pondok Pesantren Putri Al-Masyhuriyah Kebonan, Bangkalan.

1 jam yang lalu
4



English (US) ·
Indonesian (ID) ·