Iran Olok-olok Trump soal Perang: Si Bodoh Kehabisan Tenaga

2 jam yang lalu 2

Jakarta, CNN Indonesia --

Iran melalui media pemerintah membantah telah meminta Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menghentikan serangan dan membuka negosiasi.

Sejumlah media pemerintah Iran juga tak memberi indikasi pemerintah meminta agar serangan AS dibatalkan atau mengubah posisi di Selat Hormuz, demikian dikutip CNN, Minggu (2/8). Sebaliknya, mereka menuding Trump lah yang justru mundur.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Trump si bodoh sudah kehabisan tenaga," demikian laporan FARS News Agency.

Media yang dikelola kantor pemimpin tertinggi Iran, KayhanOnline, juga memberitakan narasi serupa.

"Trump mundur dari posisinya sekali lagi setelah sekitar seminggu membuat dan mengancam Iran, mengeklaim kesepakatan sudah dekat," demikian menurut KayHanOnline.

Kantor berita Mehr News, yang kerap dianggap mewakili pandangan Pemimpin Tertinggi, turut membantah Iran meminta AS menghentikan serangan.

"Trump sekali lagi menarik diri dari ancaman kosongnya dan menampilkan penarikan diri kepada dunia sebagai sebuah bantuan," demikian berita i

Pemerhati politik di Teheran, Morteza Semiari, bahkan menggunakan peribahasa Persia "Sekali lagi gunung Amerika melahirkan tikus" yang berarti gertak-gertak di awal, melempem di akhir.

Mehr News lalu menegaskan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) tetap dalam kesiapan tinggi untuk setiap kemungkinan, terlepas dari ancaman kosong atau bualan Trump.

Laporan media-media Iran itu muncul usai Trump sesumbar AS berhenti menyerang Iran karena permintaan dari mereka serta negara Arab seperi Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan Qatar.

"Kami baru saja diminta Iran, dan negara Timur Tengah lain untuk menahan serangan apapun karena batasan serangan yang sudah disetujui," tulis Trump di media sosial buatannya Truth Social.

Trump juga mengeklaim Iran bersedia negosiasi dan akan digelar pada Senin sore waktu setempat. Perundingan, kata dia, kemungkinan akan membahas soal Selat Hormuz dan masa depan nuklir Iran.

"Berkaitan dengan Selat Hormuz dan pada akhirnya juga denuklirisasi," ujar politikus Republik itu, dikutip Anadolu Agency.

Pada pertengahan Juli lalu, AS kembali menggempur habis-habisan Iran meski sudah sepakat gencatan senjata dan meneken nota kesepahaman (MoU) yang berisi penghentian pertempuran. Iran kemudian membalas dan perang pun kembali pecah selama nyaris dua pekan.

(isa/rds)

[Gambas:Video CNN]

Baca Artikel Selengkapnya