Seorang perempuan Iran memandang deretan kapal di Selat Hormuz dari kawasan Bandar Abbas, di selatan Iran pada 1 Juni 2026.
REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN — Ketegangan di Selat Hormuz kembali meningkat setelah Iran mengklaim tujuh kapal mengalami kerusakan akibat serangan di kawasan perairan strategis tersebut. Teheran juga memperingatkan Amerika Serikat (AS) bahwa konflik dapat meluas ke pangkalan-pangkalan militernya di Timur Tengah jika Washington terus mengawal kapal-kapal yang melintasi selat itu.
Aljazirah melaporkan pada Jumat (23/10/2026), Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan empat kapal yang terlibat dalam pemindahan minyak secara ilegal di kawasan Teluk Persia bagian utara dihantam secara bersamaan hingga terbakar. Tiga kapal lainnya dilaporkan tidak dapat beroperasi setelah menabrak ranjau laut di sebelah barat Selat Hormuz.
Iran menyebut insiden tersebut sebagai jumlah kapal terdampak terbesar dalam satu hari sejak Amerika Serikat dan Israel memulai perang terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Namun, klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen. Laporan yang tersedia juga belum merinci kemungkinan korban jiwa maupun bendera negara yang digunakan kapal-kapal tersebut.
Dalam pernyataannya melalui situs berita Sepah News, IRGC memperingatkan militer AS agar tidak melanjutkan tindakan yang dinilai sebagai provokasi. Teheran menegaskan, keterlibatan Washington dalam mengawal kapal-kapal yang melintasi jalur pelayaran di Selat Hormuz berpotensi memicu eskalasi lebih luas.
"Militer AS harus mengetahui bahwa jika tren ini berlanjut, konflik akan meluas hingga ke pangkalan-pangkalan mereka di kawasan," demikian peringatan IRGC. Iran menyebut pernyataan tersebut sebagai peringatan serius kepada Washington.
Pemerintah AS membantah sejumlah klaim Iran terkait serangan terhadap kapal dan keberadaan ranjau laut di Selat Hormuz. Presiden AS Donald Trump menuding Teheran berupaya menaikkan harga minyak menjelang pemilihan sela Kongres AS yang dijadwalkan berlangsung pada November 2026.
Melalui platform Truth Social, Trump menyatakan Iran mengarang laporan mengenai serangan dan ranjau laut karena semakin banyak minyak yang melintasi Selat Hormuz. Ia juga mengklaim volume minyak yang melewati jalur tersebut saat ini lebih besar dibandingkan sebelum konflik dimulai.
Juru bicara Komando Pusat Militer AS (CENTCOM), yang berbicara kepada Aljazirah tanpa disebutkan namanya, turut membantah klaim Iran mengenai ranjau laut. Menurut dia, pasukan AS telah membersihkan jalur pelayaran internasional dari ranjau, sedangkan serangan Iran dilakukan menggunakan rudal dan pesawat nirawak.
Pihak AS menyatakan Selat Hormuz masih terbuka dan sekitar 95 persen kapal dapat melintasi jalur tersebut. Washington juga menilai peningkatan serangan menunjukkan tekanan yang dihadapi Teheran akibat blokade laut AS, yang membatasi akses Iran terhadap sumber daya untuk membangun kembali kemampuan militernya.

1 jam yang lalu
2






English (US) ·
Indonesian (ID) ·