Iran-AS Intensifkan Perundingan

1 jam yang lalu 4

TEHERAN — Pemerintah Iran meyampaikan soal kelanjutan perundingan dengan Amerika Serikat untuk mengakhiri perang. Pihak Iran menegaskan tujuh prasyarat mereka harus disepakati sebelum akses Selat Hormuz kembali dibuka.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, disebut telah menyampaikan pesan kepada Amerika Serikat dalam kunjungannya baru-baru ini ke Qatar. "Perjalanan Gharibabadi ke Doha dilakukan untuk memfasilitasi pertukaran pesan antara Iran dan Amerika Serikat melalui mediasi Qatar," ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri, Esmaeil Baghaei.

"Pertukaran pesan tersebut masih terus berlangsung, namun AS harus memahami bahwa tanpa pencabutan blokade ekonomi dan pemenuhan komitmen, keamanan sepihak di Selat Hormuz dan Teluk Persia tidak akan dapat tercapai," tambahnya.

Esmaeil Baghaei mengatakan bahwa selama dua tahun terakhir, Washington “tidak hanya gagal menawarkan inisiatif diplomatik apa pun, tetapi justru secara aktif merusak proses-proses diplomatik.”

“Tolok ukur utama bagi Iran dalam perundingan nantinya hanyalah perilaku nyata dan tindakan praktis pemerintah AS,” ujarnya kepada para wartawan. “Kini giliran AS untuk melangkah, dan tuntutan Iran sangat jelas serta logis.”

Baghaei menambahkan: “Tidak akan ada kesepakatan yang tercapai, dan Selat Hormuz pun tidak akan dibuka kembali atau diamankan, kecuali blokade angkatan laut AS dicabut dan tuntutan-tuntutan sah Iran dipenuhi sepenuhnya.”

Rencana tujuh langkah dari Iran tersebut masih tetap diajukan, namun kini telah “dipadatkan agar dapat dilaksanakan dalam waktu dua hari” demi mewujudkan perdamaian, ungkap juru bicara Kementerian Luar Negeri.

“Hal ini juga menunjukkan pendekatan Iran yang didasari oleh iktikad baik. Kami telah menyatakan bahwa jika tuntutan Iran dipenuhi, keamanan di Selat Hormuz dapat dipulihkan dan proses negosiasi pun dapat dimulai dalam waktu singkat,” ujar Esmaeil Baghaei.

“Semua ini bergantung pada bagaimana pihak Amerika ingin melangkah ke depan terkait masa depan proses ini.”

Tujuh syarat Iran mencakup gencatan senjata di seluruh Timur Tengah, pelepasan aset Iran yang dibekukan di luar negeri, pencabutan sanksi terhadap sektor minyak, pengakhiran blokade angkatan laut AS, pembayaran kompensasi perang, penarikan pasukan AS, serta penghentian ancaman dan campur tangan.

Iran memperingatkan perang baru dengan Amerika Serikat dan Israel tidak akan terbatas di kawasan Timur Tengah. Teheran bahkan mengancam akan memperluas medan pertempuran hingga Eropa jika Washington dan Tel Aviv kembali melancarkan serangan militer.

Ancaman tersebut disampaikan Manouchehr Mottaki, mantan Menteri Luar Negeri Iran yang kini menjadi anggota parlemen mewakili Teheran. Ia menegaskan, Iran tidak lagi akan membatasi jangkauan geografis serangan balasan jika perang kembali pecah.

"Jika perang lain pecah melawan Iran, perang itu akan meluas hingga ke Eropa. Dihilangkannya batasan geografis berarti rudal-rudal kami akan mampu menjangkau Eropa," ujar Mottaki sebagaimana dikutip media Iran.

Pernyataan Mottaki muncul sehari setelah Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei memerintahkan jajaran militer menyiapkan respons segera terhadap setiap kemungkinan serangan baru AS dan Israel. Khamenei secara khusus meminta militernya tidak membatasi cakupan geografis serangan balasan.

"Setiap tingkat atau jenis ancaman harus ditanggapi dengan respons yang segera, berdampak, dan tidak dibatasi secara geografis," demikian pernyataan Khamenei yang dipublikasikan melalui situs resminya.

Mottaki menilai instruksi tersebut merupakan pesan tegas bagi negara-negara yang memusuhi Iran maupun pihak-pihak yang memberikan dukungan kepada mereka.

Ia juga menuding sejumlah negara Eropa, termasuk Inggris, Italia, Portugal, dan Jerman, telah mengizinkan AS memanfaatkan pangkalan militer mereka untuk melancarkan serangan terhadap Iran.

"Negara-negara ini turut terlibat dalam kejahatan yang dilakukan Amerika," katanya.

Ancaman perluasan perang itu mengisyaratkan kemungkinan Iran memperluas sasaran militernya hingga Eropa, Turki, dan kawasan Kaukasus Selatan apabila serangan baru dilancarkan. Pernyataan Khamenei yang menyebut segala tingkat dan jenis ancaman juga memunculkan kekhawatiran mengenai kemungkinan Iran mengambil tindakan sebelum serangan AS-Israel benar-benar terjadi.

Menurut kantor berita resmi Iran, IRNA, Khamenei menggelar pertemuan dengan sejumlah komandan militer senior pada Sabtu. Pertemuan tersebut membahas kesiapan angkatan bersenjata menghadapi kemungkinan operasi militer baru dari AS dan Israel.

Media pemerintah Iran melaporkan, Khamenei meminta daftar sasaran potensial AS dan Israel diperbarui. Daftar tersebut harus mencakup segala jenis aset, baik fisik maupun nonfisik.

Ia juga menegaskan Iran akan menentukan sendiri kapan perang berakhir.

"Jika musuh-musuh Iran kembali melancarkan serangan militer atau teroris, maka Angkatan Bersenjata Republik Islam dan bangsa Iran-lah yang akan menentukan kapan dan dalam kondisi seperti apa serangan-serangan tersebut akan berakhir," ujarnya.

Baca Artikel Selengkapnya