Iran Ancam Minyak Capai 150 Dolar AS per Barel jika AS Kembali Menyerang

50 menit yang lalu 2

Sejumlah pengendara sepeda motor mengantre untuk mengisi BBM di salah satu SPBU di Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (10/9/2026).

TEHERAN — Teheran memperingatkan eskalasi konflik dapat mendorong harga minyak dunia menembus 150 dolar AS per barel. Hal ini disampaikan menyusul ancaman Amerika Serikat (AS) dan Israel kembali melancarkan serangan terhadap negara tersebut.

Anggota parlemen Iran, Hosseinali Haji Deligani, menyampaikan peringatan tersebut kepada kantor berita Tasnim. Dia mengatakan, respons militer Iran terhadap serangan baru AS dan Israel tidak akan dibatasi oleh batas geografis tertentu.

"Jangkauan rudal balasan juga akan mencakup Eropa. Hal ini akan menyebabkan harga minyak melampaui ambang 150 dolar AS," kata Deligani.

Dia menggambarkan kemungkinan serangan balasan Iran sebagai respons yang "masif, berlipat ganda, dan strategis". Pernyataan tersebut mengindikasikan Teheran tidak hanya mempertimbangkan sasaran militer di kawasan Timur Tengah apabila konflik kembali pecah.

Deligani juga menyebut blokade laut AS terhadap Iran sebagai bentuk peperangan. Dia memperingatkan pasukan Iran akan melancarkan serangan pada waktu yang dianggap tepat.

Peringatan tersebut muncul setelah komandan militer tertinggi Iran pada Selasa menyatakan angkatan bersenjata negaranya akan merespons setiap ancaman tanpa batasan geografis.

Pernyataan para pejabat Iran itu memperlihatkan bahwa Teheran memandang tekanan militer dan pembatasan jalur perdagangan laut sebagai bagian dari konfrontasi yang lebih luas dengan Washington.

Deligani juga menyoroti blokade laut yang diberlakukan Amerika Serikat terhadap Iran. Dia menyebut kebijakan tersebut sebagai salah satu bentuk peperangan dan memperingatkan bahwa militer Iran akan menyerang pada waktu yang dianggap tepat.

Pernyataan itu muncul di tengah ketegangan di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar energi dunia.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur distribusi minyak paling penting di dunia. Sebelum konflik, sekitar 20 persen pasokan minyak global melewati jalur tersebut. Gangguan berkepanjangan terhadap pelayaran di kawasan ini berpotensi menghambat distribusi minyak dari negara-negara produsen utama Timur Tengah.

Baca Artikel Selengkapnya