Ilmu Tanpa Amal: Mengapa Diibaratkan seperti Keledai?

2 jam yang lalu 1

Ilmu merupakan salah satu karunia Allah SWT yang paling mulia. Melalui ilmu, manusia dapat membedakan antara yang benar dan yang salah, memahami petunjuk agama, serta menjalani kehidupan sesuai dengan tuntunan-Nya. Karena kedudukannya yang begitu penting, Islam mewajibkan setiap Muslim untuk menuntut ilmu. Rasulullah SAW bersabda:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

Artinya: “Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim.” (HR. Ibnu Majah).

Namun, dalam Islam, menuntut ilmu bukanlah tujuan akhir. Ilmu harus membuahkan pemahaman, membentuk akhlak, dan tercermin dalam perilaku sehari-hari. Seseorang tidak cukup hanya pandai berbicara tentang agama, menguasai banyak dalil, atau menghafal berbagai kitab, jika pengetahuan tersebut tidak tercermin dalam amal dan akhlaknya.

Al-Qur’an bahkan memberikan perumpamaan yang sangat keras terhadap orang-orang yang memiliki pengetahuan agama, tetapi tidak menjalankan tanggung jawab atas ilmu yang mereka miliki. Perumpamaan tersebut terdapat dalam Surat Al-Jumu’ah ayat 5:

مَثَلُ الَّذِيْنَ حُمِّلُوا التَّوْرٰىةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوْهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ اَسْفَارًا ۗ

Artinya: “Perumpamaan orang-orang yang diberi tugas membawa (mengamalkan) Taurat, kemudian mereka tidak mengamalkannya, adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab tebal.” (QS. Al-Jumu’ah: 5).


Lalu, mengapa Al-Qur'an menggambarkan orang yang tidak mengamalkan ilmu seperti keledai yang membawa kitab? Untuk mendapatkan jawabannya, simak artikel berikut sampai tuntas!

Konteks Turunnya surat Jumu'ah Ayat 5

Secara historis, surat Al-Jumu’ah ayat 5 berkaitan dengan sikap kaum Yahudi yang telah menerima kitab Taurat sebagai petunjuk Allah SWT. Mereka memiliki pengetahuan tentang ajaran dan ketentuan yang terkandung di dalamnya. Namun, pengetahuan tersebut tidak diikuti dengan kesediaan untuk menjalankan dan menaati ajarannya. Mereka justru mengabaikan amanah yang terkandung dalam kitab suci tersebut.

Melalui ayat ini, Allah SWT memberikan perumpamaan yang tegas tentang orang-orang yang memiliki pengetahuan agama, tetapi tidak menjadikannya sebagai pedoman dalam kehidupan. Mereka diibaratkan seperti keledai yang memikul kitab-kitab tebal di punggungnya: mampu membawa beban kitab, tetapi tidak memahami kandungan maupun petunjuk di dalamnya.


Simak penjelasan Syekh Wahbah Zuhaili dalam Tafsirul Munir berikut:

بعد أن أثبت الله تعالى التوحيد والنوبة، وأخبر أنه بعث الرسول العربي الأمي إلى الأميين العرب، فقال اليهود: إنه ﷺ بعث إلى العرب خاصة، ولم يبعث لنا بمفهوم الآية، رد الله عليهم بأنهم لم يعملوا بالتوراة، وأنهم لو عملوا بمقتضاها وما تضمنته من البشارة بهذا الرسول، لانتفعوا بها وآمنوا به، ولم يقولوا هذا القول أو يوردوا هذه الشبهة، ومثلهم في عدم الانتفاع بتوراتهم وترك العمل بها مثل الحمار الذي يحمل الكتب، ولم يصبه إلا العناء والتعب.

Artinya: “Setelah Allah SWT menetapkan keesaan dan kenabian, serta mengabarkan bahwa Ia mengutus seorang Rasul penutup yang berbangsa Arab lagi ummi kepada kaum yang ummi (bangsa Arab), maka berkatalah kaum Yahudi: 'Sesungguhnya beliau saw. diutus khusus untuk bangsa Arab saja, dan tidak diutus untuk kami' berdasarkan pemahaman tersirat dari ayat tersebut.

Maka Allah SWT membantah mereka dengan menyatakan bahwa mereka tidak mengamalkan isi Taurat, dan sekiranya mereka benar-benar mengamalkan tuntutan serta kandungan Taurat yang berupa kabar gembira tentang kedatangan Rasul ini, niscaya mereka akan mengambil manfaat darinya, beriman kepadanya, serta tidak akan melontarkan ucapan tersebut atau mengajukan syubhat semacam itu.

Dan perumpamaan mereka dalam hal ketidakmanfaatan mereka terhadap Taurat serta pengabaian mereka terhadap amal darinya adalah bagaikan keledai yang membawa kitab-kitab tebal, di mana ia tidak mendapatkan apa-apa darinya selain kepayahan dan kelelahan saja." ​(Tafsirul Munir, [Damaskus, Darul Fikr: 1411 H], jilid XXVIII, hlm. 189–190)


Namun, meski ayat tersebut secara konteks ditujukan untuk orang Yahudi pada masa itu, akan tetapi tetap berlaku dan relevan bagi setiap orang yang mempunyai ilmu tapi tidak mau mengamalkannya pada masa kini. Simak penjelasan Syekh Ali Al-Fayumi berikut:

فكل من علم ثم لم يعمل بعلمه فهذا مثله

Artinya: “Maka, setiap orang yang berilmu kemudian tidak mengamalkan ilmunya, inilah perumpamaannya (keledai yang membawa kitab).” (Fathul Qarib ‘ala Targhib wat Tarhib, [Riyadh, Maktabah Darus Salam: 1439 H], jilid. II, hlm. 83)

Mengapa Al-Qur’an mengumpamakan orang yang tidak mengamalkan ilmunya seperti seekor keledai yang membawa kitab-kitab tebal? Apa pesan di balik perumpamaan yang terkesan keras tersebut?

Pertanyaan ini menarik untuk direnungkan. Allah SWT tidak sekadar menggambarkan seseorang yang memiliki ilmu tetapi tidak mengamalkannya, melainkan memilih perumpamaan seekor keledai yang memikul kitab-kitab di punggungnya. Gambaran ini mengandung pesan mendalam tentang perbedaan antara sekadar memiliki pengetahuan dan benar-benar memahami serta menjadikannya sebagai pedoman hidup.

Syekh Muhammad ath-Thahir Ibnu Asyur, dalam kitab tafsir At-Tahrir wa at-Tanwir, memberikan penjelasan mengenai makna dan alasan di balik perumpamaan tersebut. Menurutnya, ada sisi keserupaan antara orang-orang yang diberi pengetahuan tentang kitab suci tetapi tidak menjalankan kandungannya dengan seekor keledai yang hanya memikul kitab-kitab tanpa memahami isinya.

Berikut penjelasan Syekh Ibnu Asyur sebagaimana dikutip dalam kitab At-Tahrir wa at-Tanwir:


وَقَدْ ضَرَبَ اللَّهُ لِهَؤُلَاءِ مَثَلًا بِحَالِ حِمَارٍ يَحْمِلُ أَسْفَارًا لَا حَظَّ لَهُ مِنْهَا إِلَّا الْحَمْلُ دُونَ عِلْمٍ وَلَا فَهْمٍ

Artinya: “Dan Allah telah membuat perumpamaan bagi mereka dengan keadaan seekor keledai yang memikul kitab-kitab tebal; ia tidak memiliki bagian apapun darinya selain sekadar memikulnya saja, tanpa ilmu dan tanpa pemahaman." ​(At-Tahrir wat Tanwir, [Tunisia, Daru Tunisia: 1984 M], jilid. XXVIII, hlm. 213)


Artinya, alasan dari perumpamaan ini adalah karena meskipun keledai terkenal sebagai hewan yang kuat menahan beban yang ada di punggungnya, akan tetapi ia sama sekali tidak tahu menahu apa yang sedang ia pikul; apakah itu jerami atau kitab suci.


Karena ketidaktahuan itulah, semulia apapun kitab yang dimuatnya semua akan muspro alias sia-sia belaka.


Begitu juga orang yang mencari ilmu tapi tidak mau mengamalkannya, walaupun pemahaman substansi dan teori telah ia kuasai, akan tetapi karena ia tidak mau mengamalkannya, maka seluruh perjalanan belajarnya berakhir dalam kesia-siaan yang serupa.

Lalu, mengapa Allah SWT secara khusus memilih keledai sebagai perumpamaan, bukan hewan lainnya? Apakah ada pesan tersendiri di balik pemilihan hewan tersebut?

Imam Fakhruddin ar-Razi memberikan penjelasan menarik mengenai hal ini dalam kitab tafsirnya, Mafatih al-Ghaib. Menurutnya, pemilihan keledai memiliki tujuan retoris, yakni untuk menggambarkan kebodohan dan ketidakmampuan memahami sesuatu secara lebih kuat.


Simak penjelasan berikut ini:

مَا الْحِكْمَةُ فِي تَعْيِينِ الْحِمَارِ مِنْ بَيْنِ سَائِرِ الْحَيَوَانَاتِ؟ نَقُولُ: لِوُجُوهٍ وَمِنْهَا: أَنَّ هذا التمثل لِإِظْهَارِ الْجَهْلِ وَالْبَلَادَةِ، وَذَلِكَ فِي الْحِمَارِ أَظْهَرُ


Artinya: “Apa hikmah di balik penentuan (pemilihan) keledai di antara seluruh hewan lainnya? Kami menjawab dengan beberapa alasan, diantaranya: karena perumpamaan ini bertujuan untuk menampilkan kebodohan dan kebebalan, dan sifat tersebut pada diri keledai adalah yang paling tampak nyata.” (Mafatihul Ghaib, [Beirut, Daru Ihya'it Turats: 1420 H], jilid XXX, hlm. 540)

Artinya, Al-Qur'an tidak sembarang memilih hewan yang akan menjadi objek perumpamaan. Keledai dipilih karena sifat kebebalan dan kebodohannya yang hina, sehingga sangat relevan dengan sifat orang yang mempunyai ilmu tapi tidak mau mengamalkannya.

Walhasil dapat kita simpulkan bahwa alasan perumpamaan orang yang tidak mengamalkan ilmu seperti keledai membawa kitab karena keduanya sama-sama memikul ‘beban’ berharga namun tidak mau mengambil manfaat, pemahaman dan pengamalan nyata darinya.

Adapun alasan kenapa keledai dipilih sebagai objek perumpamaan adalah karena ia adalah simbol kebebalan, yang menegaskan bahwa ilmu tanpa pengamalan adalah kesia-siaan yang hina di hadapan Allah SWT. Wallahu a’lam.

-----------
Muhammad Ryan Romadhon, Alumni Ma’had Aly Al-Iman Bulus, Purworejo, Jawa Tengah.

Baca Artikel Selengkapnya