Para pengunjuk rasa memprotes Presiden AS Donald Trump saat ia menyampaikan pidato untuk menandai berakhirnya kampanye pemilihan paruh waktu di Lincoln Memorial Reflecting Pool di Washington, DC, pada 2 November 2026.
WASHINGTON – Kekalahan Partai Republik dalam pemilu sela (midterm elections) Amerika Serikat (AS) pada Selasa (3/11/2026) bukan sekadar pukulan politik bagi Presiden Donald Trump. Hasil pemilu tersebut juga menjadi kabar buruk bagi Israel yang selama ini mengandalkan dukungan kuat Washington, terutama dalam menghadapi konflik di Timur Tengah.
Kemenangan besar Partai Demokrat diperkirakan mengubah peta politik AS sekaligus memperbesar tekanan terhadap kebijakan pemerintahan Trump yang selama ini memberikan dukungan militer dan diplomatik kepada Israel. Situasi ini berpotensi membuat hubungan Washington dan Tel Aviv menghadapi babak baru yang lebih rumit.
Pengumuman Donald Trump bahwa ia akan menyetop bantuan ke Israel beberapa jam sebelum pencoblosan dimulai tak mampu menyelamatkan partainya.
Dalam analisis yang diterbitkan The Jerusalem Post, Rabu (4/11/2026), teridentifikasi tiga tantangan besar yang harus dihadapi Israel setelah kekalahan Partai Republik. Ketiganya berkaitan dengan kebijakan Trump terhadap Iran, perubahan kekuatan politik di Kongres AS, serta pertarungan menuju pemilihan presiden 2028.
Tantangan pertama berkaitan dengan perang melawan Iran yang turut menyeret AS dan Israel. Konflik tersebut ternyata menjadi beban politik serius bagi Partai Republik dalam pemilu sela.
Penolakan masyarakat Amerika terhadap perang menjadi salah satu faktor yang tidak bisa diabaikan. Jajak pendapat saat pemilu menunjukkan 62 persen pemilih menentang perang melawan Iran. Bahkan, Trump mengakui konflik tersebut ikut berkontribusi terhadap kekalahan partainya.
Menurut analisis The Jerusalem Post, hasil pemilu memberikan pesan jelas bahwa masyarakat AS tidak menginginkan keterlibatan militer berkepanjangan di Timur Tengah.
Kondisi tersebut menempatkan Trump dalam posisi sulit. Gedung Putih memiliki dua kemungkinan langkah. Pertama, mempercepat jalur diplomasi dan memberikan sejumlah konsesi dalam perundingan dengan Teheran demi mengakhiri konflik.
Kedua, Trump dapat memilih operasi militer singkat tetapi berskala besar untuk mengklaim kemenangan, sebelum mengurangi keterlibatan AS di kawasan tersebut.
Kedua skenario itu berpotensi menimbulkan persoalan bagi Israel. Kepentingan pemerintahan Benjamin Netanyahu tidak selalu sejalan dengan keinginan Trump untuk segera mengakhiri perang dan mengurangi keterlibatan militer AS di Timur Tengah.
Kongres AS berpotensi menjadi sumber tekanan bagi Israel...

1 jam yang lalu
1





English (US) ·
Indonesian (ID) ·