Harga Bahan Pokok Naik, Pedagang di Bekasi Keluhkan Biaya Produksi

1 jam yang lalu 1

Jakarta, NU Online

Kenaikan harga sejumlah bahan pangan pokok kembali menekan usaha mikro di sektor kuliner. Pedagang nasi uduk dan lontong sayur di Mustikajaya, Kota Bekasi, Jawa Barat, mengeluhkan biaya produksi yang membengkak akibat harga berbagai kebutuhan dapur terus merangkak naik dalam beberapa waktu terakhir.


Midi, pedagang nasi uduk dan lontong sayur, mengatakan hampir seluruh bahan baku utama yang digunakan untuk berjualan mengalami kenaikan harga. Mulai dari beras, telur, cabai, bawang merah, bawang putih, santan, hingga berbagai jenis sayuran untuk lontong sayur kini harus dibeli dengan harga lebih mahal dibandingkan sebelumnya.


“Kalau dihitung-hitung hampir semua bahan naik. Yang paling terasa itu cabai, bawang, telur, sama sayur. Modal belanja sekarang jauh lebih besar dibanding awal bulan Juli,” ujarnya kepada NU Online di Bekasi, Selasa (11/8/2026).


Ia mengatakan lonjakan harga pangan membuat pedagang kecil berada dalam posisi sulit. Di satu sisi, biaya produksi terus meningkat. Namun, di sisi lain, kenaikan harga jual makanan berisiko membuat pelanggan berkurang karena daya beli masyarakat juga sedang melemah.


“Kalau harga nasi uduk dinaikkan, pembeli bisa pindah ke tempat lain. Tapi kalau tidak dinaikkan, keuntungan semakin tipis. Jadi serba salah,” katanya.


Midi mengaku tidak berani lagi menaikkan harga nasi uduk dan lontong sayur karena khawatir jumlah pembeli semakin berkurang.


“Waktu saya naikkan Rp1.000 ketika harga plastik naik, dampaknya pembeli berkurang,” katanya.


Ia menjelaskan, harga telur yang menjadi salah satu lauk utama terus bergerak naik. Kondisi serupa juga terjadi pada cabai merah dan bawang yang merupakan bumbu penting untuk berbagai menu yang dijual setiap hari.


Tidak hanya itu, harga sayuran seperti kol, kacang panjang, wortel, dan labu siam yang digunakan untuk membuat lontong sayur juga mengalami kenaikan. Akibatnya, Midi terpaksa mengurangi jumlah belanja harian agar modal yang dikeluarkan tidak terlalu besar.


“Biasanya saya belanja lebih banyak untuk persediaan, sekarang harus disesuaikan. Takut kalau dagangan tidak habis karena pembeli juga tidak seramai dulu,” ungkapnya.


Kondisi tersebut membuat Midi terpaksa mengurangi jumlah komponen dalam setiap porsi. Pada menu nasi uduk, jumlah suwiran telur dikurangi, sedangkan ukuran lontong pada menu lontong sayur dibuat lebih kecil dibandingkan sebelumnya.


“Saya sekarang jual nasi uduknya di harga Rp10.000 per bungkus dan lontong sayur di harga Rp12.000. Kalau ditambah telur, harga telurnya saja Rp3.500. Kalau telur terpaksa saya naikkan Rp500 karena telurnya naik tinggi, itu saja saya tidak dapat untung,” tandasnya.

Baca Artikel Selengkapnya