Guru Besar UGM Tekankan Pentingnya Silvikultur untuk Memulihkan Hutan

2 jam yang lalu 1

Jakarta, NU Online

Kerusakan hutan akibat pembalakan berlebihan, pembukaan kawasan untuk pertanian dan perkebunan, hingga pembakaran lahan telah mengancam fungsi ekologis hutan. Persoalan tersebut juga berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia.

Guru Besar Bidang Silvikultur Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Suryo Hardiwinoto, mengatakan bahwa kerusakan hutan tidak hanya mengurangi tutupan hutan, tetapi juga memengaruhi keanekaragaman hayati, penyimpanan karbon, hingga penyediaan air.

Kerusakan sumber daya hutan dalam beberapa waktu terakhir, kata Prof Suryo, berkaitan dengan pola pemanfaatan hutan yang lebih menitikberatkan pada pemenuhan kebutuhan jangka pendek tanpa mempertimbangkan manfaatnya bagi generasi mendatang.

“Untuk memperbaiki kondisi hutan yang telah mengalami degradasi diperlukan ilmu dan teknologi guna membangun hutan yang menjadi salah satu faktor kunci bagi keberhasilan pengelolaan sumber daya hutan secara lestari di Indonesia,” ujar Prof Suryo dalam keterangan yang diterima NU Online, Jumat (9/10/2026).

Ia menilai sistem silvikultur menjadi salah satu pendekatan penting untuk meregenerasi sumber daya hutan sekaligus meningkatkan produktivitasnya.

“Silvikultur berfungsi membangun dan memelihara tegakan hutan sehingga komposisi, struktur, dan pertumbuhannya sesuai dengan tujuan pengelolaan yang telah ditetapkan,” katanya.

Pihaknya menjelaskan bahwa silvikultur dilakukan melalui rangkaian pengelolaan tegakan hutan, mulai dari penanaman, pemeliharaan, pemanenan, hingga penanaman kembali.

“Rangkaian tersebut menjadi prinsip penting dalam sistem silvikultur untuk memastikan keberlanjutan tegakan setelah pemanfaatan hasil hutan dilakukan,” katanya.

Ia menegaskan bahwa pengelolaan hutan tidak boleh berhenti pada pemanenan kayu. Setelah hasil hutan dimanfaatkan, tegakan perlu dibangun kembali melalui penanaman agar fungsi ekologis dan produktivitas hutan tetap terjaga.

“Kegiatan menanam, memelihara, memanen, dan menanam kembali menjadi rangkaian yang saling berkaitan dalam pengelolaan hutan,” ujarnya.

Lebih lanjut, Prof Suryo menyampaikan bahwa hutan memiliki manfaat yang jauh lebih luas daripada sekadar menghasilkan kayu. Hutan juga menyediakan pangan, pakan, obat-obatan, dan energi terbarukan, serta jasa lingkungan, termasuk penyerapan karbon, pelestarian keanekaragaman hayati, penyeimbang tata air, dan ekowisata.

“Ini (silvikultur) perlu terus dikembangkan, baik dalam konteks nasional maupun global, agar mampu menjawab kebutuhan pengelolaan hutan yang semakin kompleks,” ucapnya.

Menurutnya, pengelolaan hutan perlu mempertimbangkan seluruh manfaat tersebut dalam jangka panjang agar pemanfaatan sumber daya tidak mengabaikan keberlanjutan lingkungan.

“Dari sini, sektor kehutanan mempunyai peran penting dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat, mewujudkan kemandirian ekonomi, dan meningkatkan daya saing bangsa di kancah internasional,” ujar Prof Suryo.

Baca Artikel Selengkapnya