Jakarta, CNN Indonesia --
Gelombang panas intens tengah mencekik sebagian besar wilayah Korea Selatan (Korsel) dengan suhu udara di siang hari diperkirakan menembus angka 37 derajat Celsius. Kondisi cuaca ekstrem ini memicu kekhawatiran serius terhadap ancaman kesehatan masyarakat setempat.
Berdasarkan data Badan Meteorologi Korea (KMA) yang dikutip kantor berita Yonhap, Sabtu (8/8), hujan lebat dengan intensitas hingga 100 milimeter diproyeksikan mengguyur wilayah pesisir timur dan pegunungan di Provinsi Gangwon.
Sementara itu, untuk kawasan Seoul dan wilayah tengah Korea Selatan berpotensi diguyur hujan hingga 40 milimeter.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski demikian, pihak meteorologi memperingatkan bahwa penurunan suhu akibat hujan ini hanya bersifat sementara. Begitu curah hujan reda, kombinasi suhu tinggi dan tingkat kelembapan yang melonjak justru akan kembali memicu hawa gerah yang menyengat.
Dampak gelombang panas yang kian menyengat memaksa pemerintah mengambil langkah penyesuaian. Pihak berwenang memutuskan untuk mengurangi hingga menangguhkan sementara pelaksanaan ujian mengemudi guna melindungi masyarakat dari risiko penyakit akibat paparan panas berlebih.
Data pemerintah Negeri Ginseng sendiri mencatat terjadi lonjakan dramatis terkait kasus penyakit akibat cuaca panas.
Rata-rata dilaporkan sebanyak 638 kasus gangguan kesehatan akibat panas setiap periode Agustus. Angka ini melonjak hampir tiga kali lipat dibandingkan rata-rata periode 2011-2015 yang hanya mencatat 215 kasus.
Sebanyak 1.299 orang mengalami gangguan kesehatan akibat sengatan panas dalam periode tersebut, di mana 12 orang di antaranya dilaporkan meninggal dunia.
Prakiraan cuaca mengindikasikan gelombang panas masih akan bertahan hingga akhir Agustus 2026, dengan rentang suhu siang hari rata-rata berkisar antara 31 hingga 35 derajat Celsius di seluruh negeri.
(wiw)

1 jam yang lalu
1







English (US) ·
Indonesian (ID) ·