Jakarta (ANTARA) - Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto menilai investor pasar modal masih bersikap selektif karena belum sepenuhnya melihat pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,29 persen year on year (yoy) pada kuartal II 2026 sebagai momentum yang berkelanjutan.
Ia menjelaskan, hal itu tercermin dari pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) yang meskipun kembali menguat, namun belum sepenuhnya ditopang oleh saham-saham berfundamental besar maupun arus masuk investor asing (foreign inflow).
“IHSG memang melanjutkan penguatan, tetapi kualitas reli masih terbatas. Kenaikan indeks lebih banyak ditopang saham-saham spekulatif, sementara investor asing masih mencatatkan net sell pada sejumlah saham berkapitalisasi besar,” ujar Rully sebagaimana keterangan yang diterima di Jakarta, Kamis.
Rully mengatakan, kondisi itu menunjukkan bahwa pelaku pasar belum sepenuhnya menjadikan data pertumbuhan ekonomi yang melampaui ekspektasi sebagai katalis utama investasi, tercermin dari masih tertekannya sejumlah saham berfundamental kuat.
Baca juga: OJK: Pasar modal jaga peran sumber pembiayaan di tengah gejolak global
Ia melihat pelaku pasar saat ini tidak hanya memperhatikan besarnya angka pertumbuhan ekonomi, namun juga mencermati kualitas dan keberlanjutan sumber pertumbuhan tersebut.
“Selama arus dana asing belum kembali dan saham-saham berkapitalisasi besar belum menunjukkan penguatan yang lebih merata, investor masih cenderung bersikap selektif,” ujar Rully.
Selain itu, Rully menilai penguatan nilai tukar Rupiah dalam beberapa hari terakhir juga lebih dipengaruhi oleh faktor eksternal dibandingkan kondisi domestik.
Menurutnya, penguatan yen Jepang setelah adanya intervensi terkoordinasi Jepang dan Amerika Serikat (AS), menekan penguatan dolar AS sehingga turut mendukung mata uang negara berkembang, termasuk Rupiah.
Pewarta: Muhammad Heriyanto
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.








English (US) ·
Indonesian (ID) ·