Jakarta (ANTARA) - Ekonom Bank Danamon Indonesia Hosianna Evalita Situmorang menilai bauran kebijakan Bank Indonesia (BI) berpotensi memperkuat cadangan devisa (cadev) Indonesia di sisa tahun, setelah posisinya kembali meningkat pada Juni 2026 usai turun selama lima bulan berturut-turut.
Dalam laporan Macro Glint yang diterima di Jakarta, Selasa, Ekonom Danamon Hosianna Evalita Situmorang menilai kebijakan diskon 10 persen untuk lindung nilai (hedging) swap BI bagi investor asing dapat menurunkan biaya lindung nilai sekaligus meningkatkan imbal hasil aset berdenominasi rupiah yang telah dilindungi dari risiko valuta asing.
"Sehingga memperkuat premi kepercayaan untuk keberlanjutan aliran dana masuk ke SBN dan SRBI," kata Hosianna.
Prospek tersebut juga ditopang upaya bank sentral untuk meningkatkan struktur imbal hasil SRBI di berbagai tenor guna menjaga daya saing instrumen investasi Indonesia dibandingkan negara-negara lain di kawasan.
Baca juga: Rupiah menguat ke Rp17.980 seiring data cadangan devisa yang membaik
Baca juga: BI: Cadev capai 145,6 miliar dolar AS pada Juni, naik 700 juta dolar
Selain itu, rencana penerbitan Panda Bond senilai 1 miliar dolar AS oleh Kementerian Keuangan dinilai dapat mendiversifikasi sumber pembiayaan eksternal sekaligus memberikan tambahan penyangga likuiditas valuta asing setelah dana hasil penerbitan diterima.
Namun, ujar Hosianna dampak penerbitan Panda Bond terhadap cadangan devisa akan bergantung pada waktu penerbitan dan penempatan dana hasil penerbitan tersebut.
"(Panda Bond) dapat mendiversifikasi sumber pembiayaan eksternal dan menyediakan tambahan penyangga likuiditas valuta asing setelah dana hasil penerbitan diterima, meskipun dampaknya terhadap cadangan devisa akan bergantung pada waktu dan penempatan dana tersebut," ujarnya.
Cadangan devisa Indonesia meningkat menjadi 145,6 miliar dolar AS pada Juni 2026 dari 144,9 miliar dolar AS pada Mei 2026, sekaligus menjadi kenaikan pertama setelah lima bulan berturut-turut mengalami penurunan.
BI menyatakan peningkatan tersebut terutama ditopang penerimaan pajak dan jasa, yang mampu mengimbangi kebutuhan pembayaran utang luar negeri pemerintah serta langkah stabilisasi nilai tukar rupiah.
Ketahanan eksternal juga didukung kembali masuknya aliran investasi portofolio. Kepemilikan investor asing pada SBN meningkat dari Rp863 triliun pada Mei 2026 menjadi Rp886 triliun pada Juni 2026.
Pada saat yang sama, posisi SRBI meningkat dari Rp980 triliun menjadi Rp1.073 triliun, dengan sekitar 20 persen di antaranya dimiliki investor asing.
Menurut BI, secara keseluruhan, kecukupan cadangan devisa tetap solid, setara dengan pembiayaan 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional.
Baca juga: Gubernur BI: Cadangan devisa tetap kuat antisipasi pelemahan rupiah
Baca juga: BI: Cadev Mei turun ke 144,9 miliar dolar di tengah stabilisasi rupiah
Pewarta: Indra Arief Pribadi
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.








English (US) ·
Indonesian (ID) ·