Jakarta, CNN Indonesia --
Pemimpin oposisi Israel, Gadi Eisenkot, menyatakan siap untuk memperkuat hubungan antara Israel dan Amerika Serikat jika dia terpilih menjadi perdana menteri.
Dalam pernyataan di media sosial X pada Rabu (4/11), Eisenkot mengatakan hubungan Israel dan AS sudah melampaui pemerintahan karena dibangun atas dasar nilai-nilai demokrasi dan kepentingan keamanan bersama.
Oleh karena itu, jika ia menjadi PM, ia akan memperkuat kemitraan tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di bawah kepemimpinan saya, kami akan memperbarui dan memperdalam kemitraan itu, memperkuat fondasi bipartisan yang telah lama menopangnya," tulis Eisenkot, seperti dikutip Middle East Monitor.
Eisenkot menambahkan ia juga siap untuk bekerja sama dengan Washington di bawah pemerintahan Presiden AS Donald Trump guna mempromosikan keamanan, kerja sama ekonomi, dan stabilitas regional.
"Saya berharap dapat bekerja sama secara erat dan konstruktif dengan Presiden Trump dan pemerintahannya, yang persahabatan dan komitmennya terhadap Israel sangat kami hargai," tulisnya.
Eisenkot kemudian menekankan bahwa Israel bakal tetap menjadi salah satu mitra strategis AS yang paling bisa diandalkan di Timur Tengah.
Pernyataan ini disampaikan sehari setelah para pemimpin oposisi sepakat merekomendasikan Eisenkot untuk menjadi PM baru Israel kepada Presiden Isaac Herzog. Para pemimpin juga sepakat untuk memulai negosiasi koalisi dan membentuk pemerintahan darurat nasional.
Opsi pemerintahan darurat nasional ini diambil guna menggalang koalisi luas, termasuk dengan faksi Haredi dan Arab. Skema ini memberi pembenaran politik bagi partai-partai yang secara ideologis berseberangan untuk bekerja sama, utamanya demi memulihkan keamanan, perekonomian, dan demokrasi.
Blok oposisi Eisenkot sendiri terdiri dari mantan PM Naftali Bennett, pemimpin oposisi Yair Lapid, pemimpin Yisrael Beytenu Avigdor Lieberman, dan pemimpin Demokrat Yair Golan. Kubu ini hanya mendapat 48 kursi dalam pemilu parlemen pekan lalu.
Untuk membentuk pemerintahan, butuh setidaknya 61 kursi dari total 120 kursi di Knesset.
Sumbangan kursi dari faksi Arab, yang secara mengejutkan meraup 19 kursi, dapat membantu Eisenkot untuk melengserkan Netanyahu. Partai-partai Arab sendiri telah menyatakan kesediaan untuk bekerja sama dengan kubu Eisenkot.
Di Israel, setelah pemilu parlemen digelar, hasil perhitungan suaranya akan diserahkan kepada presiden. Selanjutnya, presiden akan mengumpulkan para pemimpin partai yang lolos untuk menentukan siapa yang akan ditunjuk sebagai kandidat PM.
Setelah presiden menunjuk kandidat tersebut, calon PM mesti membentuk kabinet dalam waktu 28 hari. Apabila tenggat waktu tersebut kurang, kandidat dapat diberi waktu tambahan maksimal 14 hari.
Jika kandidat gagal membentuk kabinet, presiden akan mengalihkan mandat kepada kandidat lain. Namun, jika semua upaya tersebut pada akhirnya gagal membentuk pemerintahan, Israel harus menggelar pemilu ulang.
(blq/dna)

50 menit yang lalu
1






English (US) ·
Indonesian (ID) ·