Kereta malam lewat tepat pukul sebelas lebih sebelas menit. Dinding asrama bergetar kecil. Gelas aluminium di rak kayu berdenting pelan. Di Pondok Pesantren Al-Hikmah, bunyi kereta sudah seperti bagian dari jadwal harian. Selain azan, kentongan bangun malam, dan suara sandal yang diseret setengah mengantuk menuju kamar mandi.
Malam itu Farhan belum tidur. Ia duduk di teras asrama sambil membuka kitab tafsir yang sebenarnya tidak benar-benar dibacanya. Matanya bergerak pada huruf-huruf Arab gundul, tetapi pikirannya entah ke mana.
Dari dapur pondok tercium bau kayu bakar dan sisa gorengan untuk makan sahur santri yang puasa sunnah. Udara dingin turun pelan-pelan dari arah sawah.
“Belum tidur?”
Farhan menoleh. Ustadz Munir berdiri sambil membawa termos air panas.
“Belum, Ustadz.”
“Besok ada setoran hafalan?”
“Iya.”
Ustadz Munir duduk di sebelahnya. Lelaki itu masih muda. Belum genap tiga puluh tahun. Alumni pondok yang memilih tetap mengajar meski beberapa kawannya sudah bekerja di kota.
“Kamu kelihatan banyak pikiran,” katanya.
Farhan tersenyum tipis. “Kelihatan ya?”
“Santri kalau lagi banyak pikiran biasanya karena dua alasan. Hafalan macet atau jatuh cinta.”
Farhan tertawa kecil. “Bukan dua-duanya.”
“Lalu?”
Farhan diam beberapa saat. Seperti sedang memilih kata yang tepat agar kegelisahannya tidak terdengar berlebihan.
“Saya kadang bingung, Ustadz.”
“Bingung kenapa?”
“Nanti setelah keluar dari pondok, kami ini akan jadi apa?”
Suara jangkrik terdengar dari halaman belakang. Ustadz Munir membuka tutup termos, menuang air panas ke gelas kecil, lalu menyeruputnya pelan.
“Kenapa kepikiran begitu?”
Farhan memandang halaman pondok yang mulai sepi.
“Saya merasa dunia sekarang berubah cepat sekali. Orang-orang lebih suka mendengar ceramah pendek di media sosial daripada datang mengaji. Semua serba cepat. Serba instan.”
Ia berhenti sebentar.
“Kadang saya takut ilmu yang kami pelajari di sini tidak lagi penting.”
Ustadz Munir tidak langsung menjawab.
Dari mushala terdengar beberapa santri masih murajaah hafalan. Suaranya naik turun seperti ombak kecil.
“Dulu,” kata Ustadz Munir pelan, “orang-orang juga pernah takut radio akan membuat orang malas datang ke pengajian.”
Farhan mendengarkan.
“Lalu televisi datang. Orang takut agama hilang. Sekarang internet datang. Orang takut lagi.”
“Tapi memang berbeda sekarang, Ustadz.”
“Iya,” jawabnya sambil tersenyum. “Setiap zaman selalu merasa dirinya paling rumit.”
Farhan menunduk.
Beberapa hari terakhir pikirannya memang kacau. Bermula dari sebuah video pendek yang ramai di media sosial. Potongan ceramah seorang kiai tua diedit sedemikian rupa hingga terdengar kasar dan menghakimi anak muda. Kolom komentarnya penuh kemarahan. Sebagian menghina pesantren. Sebagian lagi membela secara berlebihan. Tidak ada yang benar-benar ingin memahami permasalahan yang sebenarnya.
Farhan beberapa kali membaca komentar-komentar itu diam-diam selepas mengaji malam. Ada yang menyebut pesantren sudah tidak relevan. Ada yang bilang agama hanya dipakai untuk menakut-nakuti. Kalimat-kalimat itu mengganggu kepalanya. Sebab ia lahir dari keluarga sederhana yang percaya pada pesantren. Ayahnya seorang penjual sayur di pasar. Ibunya tidak tamat sekolah dasar. Mereka mengirim Farhan mondok bukan agar menjadi orang terkenal, melainkan agar menjadi manusia yang “punya pegangan hidup”.
Tetapi dunia di luar pondok tampak bergerak ke arah lain. Di media sosial, orang terkenal bisa bicara agama tanpa pernah belajar bertahun-tahun. Potongan ayat dipakai untuk saling menyerang. Kemarahan lebih cepat viral daripada ketenangan.
“Ustadz,” kata Farhan lagi, “apa agama nanti cuma jadi tontonan?”
Ustadz Munir memandang langit yang gelap.
“Bisa jadi.”
Jawaban itu membuat Farhan terkejut.
“Tapi agama juga bisa tetap menjadi cahaya,” lanjutnya. “Tergantung siapa yang membawanya.”
Malam semakin dingin. Beberapa santri mulai mematikan lampu kamar. Tinggal cahaya mushala yang masih menyala kuning pucat.
“Kamu tahu,” kata Ustadz Munir, “yang paling berbahaya bukan teknologi.”
“Lalu apa?”
“Manusia yang kehilangan adab ketika memakai teknologi.”
Farhan terdiam. Kalimat itu terasa sederhana, tetapi seperti mengetuk sesuatu di dalam dirinya.
Esok paginya, pondok ramai. Sebuah akun media sosial besar mengunggah potongan video ceramah pengasuh pondok mereka, Kiai Harsyim. Judulnya provokatif. Seolah-olah sang kiai melarang santri menggunakan internet. Padahal isi ceramah sebenarnya jauh lebih panjang.
Para santri gaduh sejak selepas Subuh.
“Akun itu sengaja cari sensasi.”
“Dipenggal videonya.”
“Fitnah.”
Beberapa santri terlihat marah. Sebagian sibuk membalas komentar. Farhan ikut membaca. Dadanya terasa sesak. Di antara ribuan komentar itu, ada satu yang terus terngiang di kepalanya:
“Pesantren cuma melahirkan manusia yang takut perubahan.”
Kalimat itu seperti menampar sesuatu yang selama ini diam-diam ia takutkan sendiri.
Menjelang Dzuhur, semua santri dikumpulkan di aula. Kiai Harsyim datang berjalan pelan dengan tongkat kayu di tangan. Usianya sudah lebih dari tujuh puluh tahun. Suaranya tidak keras, tetapi selalu membuat ruangan menjadi tenang.
Beliau duduk di kursi depan para santri. “Saya dengar kalian sedang ribut soal internet,” katanya.
Beberapa santri tertawa kecil.
“Kalian marah?”
Tidak ada yang menjawab.
Kiai Harsyim tersenyum tipis. “Kalau hidup kalian habis hanya untuk marah pada orang yang tidak paham, kapan kalian belajar memahami?”
Ruangan mendadak hening.
Beliau melanjutkan: “Dunia memang berubah. Cara manusia belajar berubah. Cara manusia berbicara berubah. Tapi satu hal jangan ikut berubah.”
“Apa itu, Kiai?” tanya seorang santri.
“Akhlak.”
Kiai Harsyim berhenti sebentar, lalu memandang para santri satu per satu. “Ilmu tanpa akhlak hanya akan membuat manusia merasa paling benar.”
Farhan menunduk. Entah mengapa kalimat itu terasa dekat sekali dengan kegelisahannya selama ini.
Beliau melanjutkan lagi: “Jangan sibuk bertanya apakah agama akan bertahan di masa depan.”
Para santri diam mendengarkan.
“Bertanyalah, apakah kalian mampu membawa agama dengan wajah yang menenangkan?”
Di luar aula, angin siang menggerakkan daun-daun pisang. Tidak ada suara selain kipas tua yang berputar pelan di langit-langit.
Farhan merasa seperti baru saja mendengar sesuatu yang lama hilang dari dirinya sendiri. Selama ini ia terlalu sibuk memikirkan bagaimana agama terlihat di mata dunia. Padahal mungkin yang lebih penting adalah bagaimana agama hidup di dalam perilaku sehari-hari.
Malamnya, selepas Isya, Farhan duduk lagi di teras asrama. Kali ini kitab di pangkuannya benar-benar dibaca.
Dari kejauhan terdengar suara santri tertawa. Ada yang sedang mencuci sarung. Ada yang berebut colokan listrik. Kehidupan pondok berjalan seperti biasa, sederhana dan kadang kacau, tetapi hangat.
Kereta malam lewat lagi. Dinding bergetar kecil. Farhan memandang mushala yang lampunya redup.
Tiba-tiba ia teringat ayahnya yang setiap pagi mendorong gerobak sayur sebelum matahari terbit. Lelaki sederhana itu pernah berkata saat mengantar Farhan mondok bertahun lalu: “Jadilah orang yang ilmunya bikin hati orang lain teduh.”
Waktu itu Farhan belum benar-benar memahami. Kini, di tengah dunia yang semakin bising oleh pendapat dan kemarahan, kalimat itu perlahan terasa menemukan tempatnya.
Dan pondok kecil itu, dengan tembok kusam dan atap yang bocor di musim hujan, mendadak tampak seperti sesuatu yang penting. Bukan karena ia sempurna. Melainkan karena di tempat seperti itulah, anak-anak muda belajar bahwa agama bukan sekadar perkara benar dan salah. Tetapi juga tentang cara menjaga manusia tetap menjadi manusia.
Karang Anjog, Mei 2026
Riswo Mulyadi, lahir di Banyumas tahun 1968, aktif menulis puisi dan geguritan bahasa banyumasan. Buku kumpulan puisi tunggalnya: Gigir Bukit Sinawing (2017) Kumpulan Geguritan Banyumasan: Luh Netes Nang Gligire Sinawing (2023), Kini aktif sebagai pendidik di MI Ma’arif NU 1 Cilangkap, Pengurus Lesbumi PCNU Banyumas, Tinggal di Karanganjog Desa Cihonje Kecamatan Gumelar Banyumas, Jawa Tengah

1 jam yang lalu
2



English (US) ·
Indonesian (ID) ·