BI tekankan pentingnya pengawasan perbankan yang efektif dan adaptif

1 jam yang lalu 3

Jakarta (ANTARA) - Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menegaskan bahwa perubahan model bisnis dan kemajuan teknologi yang pesat di industri perbankan membutuhkan pengawasan yang efektif, berorientasi ke depan, dan adaptif.

“Seiring digitalisasi dan teknologi baru terus mentransformasi perbankan, kita harus menjaga keseimbangan yang tepat antara inovasi dan ketahanan, dengan dukungan tata kelola yang baik dan pengawasan yang efektif,” kata Destry dalam pembukaan International Conference of Banking Supervisors (ICBS) ke-24.

Dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Senin, ia mengatakan untuk mengenali kerentanan sejak dini, pengawas dinilai perlu memahami tidak hanya kondisi keuangan bank, tetapi juga keterhubungan dalam ekosistem keuangan, perubahan model bisnis, serta pesatnya perkembangan teknologi.

Untuk itu, Destry menekankan pentingnya kerjasama antar otoritas dan lintas negara melalui dialog serta pertukaran pengetahuan untuk memperkuat kemampuan pengawas dalam mengantisipasi risiko dan merespons perubahan lanskap keuangan dan memitigasi risiko sebelum mengganggu sistem keuangan.

Sejalan dengan hal tersebut, Deputi Gubernur BI Solikin M Juhro dalam diskusi panel menekankan pentingnya strategic foresight untuk mengantisipasi potensi risiko yang belum terlihat saat ini.

Pendekatan tersebut, lanjutnya, membantu pengawas memahami arah perubahan perilaku pelaku ekonomi, model bisnis, dan persepsi pasar, sekaligus mengembangkan indikator pengawasan yang lebih relevan dengan dinamika tersebut.

Dengan demikian, pengawas dapat mendeteksi potensi kerentanan lebih dini dan mempersiapkan respons yang tepat untuk menjaga ketahanan perbankan dan stabilitas sistem keuangan.

Sementara itu, Ketua Basel Committee on Banking Supervision (BCBS) sekaligus Gubernur Sveriges Riksbank Erik Thedéen menegaskan bahwa pengaturan yang kuat perlu dilengkapi dengan pengawasan yang mampu mengenali risiko sejak dini, menyampaikan langkah perbaikan secara jelas, dan memastikan tindak lanjut yang tepat waktu.

Kepatuhan terhadap standar minimum perlu disertai penilaian atas kualitas tata kelola, manajemen risiko, dan keberlanjutan model bisnis bank.

Untuk itu, modernisasi pengawasan perlu ditopang oleh sumber daya manusia yang kompeten, informasi dan teknologi yang memadai, serta pertimbangan profesional yang berbasis bukti dan dapat dipertanggungjawabkan.

Untuk diketahui, BI bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjadi tuan rumah rangkaian kegiatan Basel Committee on Banking Supervision (BCBS) Meeting dan 24th International Conference of Banking Supervisors (ICBS) yang berlangsung pada 28 September hingga 1 Oktober 2026 di Bali.

Forum itu mempertemukan sekitar 300 delegasi tingkat tinggi dari bank sentral, otoritas pengawas sektor keuangan, organisasi internasional, dan pelaku industri dari lebih 60 negara.

BCBS Meeting yang berlangsung pada 28–29 September 2026 membahas risiko dan kerentanan perbankan global serta kemajuan berbagai inisiatif penguatan pengaturan dan pengawasan.

Pertemuan tersebut membahas sejumlah isu strategis pengawasan perbankan global seperti risiko dan kerentanan di sektor perbankan dan keuangan, penguatan kerangka pengawasan, Global Systemically Important Banks (G-SIBs), hingga implementasi standar prudensial global.

Perkembangan frontier artificial intelligence (AI), digitalisasi, aset kripto dan stablecoins, risiko likuiditas, serta risiko suku bunga turut menjadi perhatian.

Sementara itu, ICBS yang berlangsung pada 30 September–1 Oktober 2026 mengangkat dua tema penting yaitu “The Resilient Supervisor: Adapting to Structural Changes and New Risks” dan “Digitalisation and the future of banking supervision”.

Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Virna P Setyorini
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya