BI tegaskan digitalisasi bukan sebagai pengganti uang rupiah fisik

1 bulan yang lalu 28

Jakarta (ANTARA) - Asisten Gubernur Kepala Departemen Pengelolaan Uang Bank Indonesia Anwar Bashori mengatakan transformasi penggunaan uang dalam bentuk digital bukan sebagai pengganti keberadaan rupiah fisik namun sebagai pelengkap dalam perkembangan model transaksi keuangan yang mengalami perubahan zaman.

“Digitalisasi luar biasa kenaikannya, tapi Bank Indonesia mengatakan bahwa antara digitalisasi dengan cash itu adalah bukan saling menggantikan, tapi komplementari, saling melengkapi,” kata Anwar saat ditemui media dalam acara pembukaan Festival Rupiah Berdaulat Indonesia (Ferbi) 2026 di Istora Senayan, Jakarta, Jumat.

Anwar mengatakan Bank Indonesia senantiasa mendukung digitalisasi transaksi keuangan salah satunya dengan perkembangan QRIS yang masif di berbagai wilayah Indonesia.

Namun, Indonesia yang memiliki lebih dari 17 ribu pulau dan konektivitas dengan jaringan telekomunikasi yang masih menjadi tantangan di beberapa wilayah membuat keberadaan uang rupiah dalam bentuk fisik masih sangat dibutuhkan untuk mendukung perputaran ekonomi masyarakat.

Ia mencontohkan tempat-tempat terpencil yang minim jaringan internet dan tingkat pendidikan yang tidak merata seperti di Pulau Jawa mengharuskan Bank Indonesia tetap mengedarkan uang rupiah dan selalu melakukan pergantian uang setiap tahunnya bekerja sama dengan patroli Angkatan Laut untuk mengantarkan uang.

“Kalau di Jakarta, kalau ada namanya uang kurang bagus, bisa kita ATM ada, setiap waktu bisa kita dropping, tapi kalau wilayah terpencil itu cycle-nya cukup lama karena medannya nggak bisa, tapi karena harus hadir kita dengan kapal laut untuk mengganti, setiap tahun itu mengganti tempat-tempat yang terpencil itu kita ganti uangnya,” kata Anwar.

Ia juga mengatakan penggunaan uang fisik juga sangat dibutuhkan untuk alat tukar bagi penjual dan pembeli di pasar tradisional yang kebanyakan tidak terhubung dengan digitalisasi keuangan seperti QRIS.

Selain itu uang kertas lembaran juga masih dibutuhkan dalam menjaga tradisi silaturahmi berbagi angpao pada saat musim lebaran atau hari besar keagamaan lainnya.

Ia juga mengatakan saat terjadi bencana, kebutuhan akan uang kertas juga tidak tergantikan karena tidak bergantung pada ketersediaan listrik atau jaringan telekomunikasi pada saat darurat.

“Hal-hal itu yang terus kita perhatikan, dan tidak ada negara satu pun negara ini yang meninggalkan uang kartal, digitalisasi bukan substitusi, tapi saling melengkapi,” kata Anwar.

Pewarta: Fitra Ashari
Editor: Virna P Setyorini
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya