Jakarta (ANTARA) - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mengungkapkan sebanyak 50 investor telah membuka rekening perdagangan short selling pada hari pertama implementasi mekanisme tersebut pada Kamis (01/09) hari ini.
Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik mengatakan bahwa dari lima saham yang masuk dalam daftar efek short selling, baru satu saham yang tercatat dilakukan transaksi short selling.
"Informasi yang kami dapat sudah ada sekitar 50 investor yang sudah membuka perdagangan short selling," ungkap Jeffrey diwawancarai wartawan di Gedung BEI, Jakarta, Kamis.
Jeffrey memastikan bahwa penerapan transaksi short selling pada hari pertama berjalan lancar, serta berharap mekanisme tersebut dapat digunakan investor sebagai salah satu strategi investasi tanpa memberikan tekanan yang berlebihan terhadap harga saham.
Baca juga: Danantara serahkan porsi saham BEI kepada OJK
Berdasarkan pemantauan perdagangan pada hari pertama, Ia memastikan saham-saham yang masuk dalam daftar short selling tidak mengalami penurunan harga yang tajam.
"Beberapa saham tadi pagi sempat naik atau relatif tidak berubah harganya. Jadi secara umum, pemberlakuan short selling berjalan lancar," ujar Jeffrey.
Jeffrey menjelaskan implementasi short selling saat ini masih berada dalam tahap uji coba yang akan berlangsung hingga akhir tahun 2026. Setelahnya, penerapannya akan dievaluasi untuk kemungkinan diperluas pada awal 2027.
Dalam pipeline (antrean), Ia mengungkapkan terdapat dua Anggota Bursa (AB) tambahan yang sedang dalam proses untuk menjadi AB yang memfasilitasi layanan transaksi short selling.
"Kalau memang sudah siap, tentu akan kita berikan izin segera setelah kesiapan itu ada," ujar Jeffrey.
Pewarta: Muhammad Heriyanto
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.








English (US) ·
Indonesian (ID) ·