Jakarta (ANTARA) - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan dukungan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyelenggarakan International Capital Market Summit (ICMS) 2026 bertajuk “Restoring Global Investor Confidence through Capital Market Reform and International Best Practices”.
Forum ICMS 2026 pada Rabu (23/9) mempertemukan regulator, perusahaan tercatat, Anggota Bursa (AB), investor dan pemangku kepentingan global, yang digelar untuk membahas perkembangan pasar, perspektif investor global, agenda reformasi, serta penerapan international best practices dalam reformasi pasar modal Indonesia.
"Pasar modal Indonesia telah mengalami pertumbuhan signifikan dalam satu dekade terakhir disertai dengan ekosistem produk yang semakin beragam," ujar Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik dalam keterangan resmi di Jakarta, Jumat.
Jeffrey memaparkan jumlah perusahaan tercatat meningkat dari 521 perusahaan pada 2015 menjadi 962 perusahaan per 22 September 2026, sementara jumlah investor pasar modal tumbuh dari sekitar 434 ribu menjadi hampir 31,8 juta investor.
Kemudian, kapitalisasi pasar mencapai sekitar Rp11.100 triliun atau 623 miliar dolar AS, dengan ekosistem produk yang semakin beragam, mulai dari saham, ETF, REIT, waran terstruktur, derivatif, hingga efek bersifat utang.
“Berbagai pencapaian pasar modal tentunya menjadi hal yang patut kita apresiasi. Namun, tantangan kita tidak lagi hanya mengenai bagaimana menumbuhkan pasar, tetapi juga bagaimana memperkuat kualitas, kredibilitas, aksesibilitas, dan daya saing pasar modal Indonesia di tingkat internasional,” ujar Jeffrey.
Dalam rangka menjawab tantangan itu, BEI bersama OJK terus memperkuat agenda reformasi pasar modal dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk menerima pendapat dan pandangan para investor global dan pakar hukum internasional di sektor pasar modal.
Adapun, agenda reformasi mencakup penguatan free float perusahaan tercatat, data kepemilikan saham, tata kelola, kepatuhan dan penegakan regulasi, pendalaman pasar, dan kolaborasi dengan stakeholders internasional.
"Berbagai upaya tersebut diarahkan untuk membangun pasar modal yang semakin transparan, mudah diakses, efisien, resilien dan berdaya saing di tingkat global," ujar Jeffrey.
Dalam kesempatan sama, Wakil Ketua Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), Mohamad Hekal menggarisbawahi bahwa reformasi pasar modal Indonesia, khususnya Demutualisasi Bursa, merupakan salah satu langkah strategis untuk meningkatkan kapasitas dan daya saing BEI di tingkat global.
Baca juga: BEI: Seluruh Anggota Bursa siap terapkan harga saham terendah Rp1
Baca juga: OJK sosialisasikan POJK Demutualisasi, BEI siapkan aturan pelaksanaan
Setelah Demutualisasi, Ia menekankan BEI tetap perlu mempertahankan independensinya, antara lain melalui pengaturan pembatasan kepemilikan saham baru hingga 5 persen atau sesuai persetujuan OJK sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 13 Tahun 2026 tentang Pemegang Saham Bursa Efek.
Hekal melanjutkan, pasar modal Indonesia harus dibangun sebagai lembaga yang independen, kredibel, serta memberikan kesempatan yang setara bagi seluruh pemegang saham.
"Batas maksimal kepemilikan saham di Bursa sebesar 5 persen baik secara langsung maupun tidak langsung sebagaimana dalam POJK, perlu diterapkan secara konsisten dengan tidak memberikan pengecualian atau perlakuan khusus kepada lembaga atau entitas mana pun," ujar Hekal.
Sementara itu, Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menekankan bahwa pasar modal Indonesia memiliki potensi yang besar.
Namun demikian, menurutnya, untuk menjaga dan memperkuat kepercayaan investor, ketahanan ekonomi saja tidak cukup, yang mana diperlukan reformasi yang berkelanjutan, institusi yang kredibel, serta penguatan integritas dan transparansi pasar.
"Di saat yang sama, kerangka regulasi dan pengawasan perlu terus dikembangkan dan diselaraskan dengan standar internasional," ujar Friderica.
Dalam konteks tersebut, ICMS 2026 menjadi ruang untuk mempertemukan perspektif domestik dan global dalam membahas arah pengembangan pasar modal Indonesia.
Melalui forum tersebut, BEI tidak hanya menyampaikan perkembangan dan agenda reformasi pasar modal Indonesia, namun juga membuka ruang untuk mendengarkan perspektif komunitas investasi global, mempelajari praktik internasional, memperkuat pemahaman bersama, serta membangun koneksi dan peluang kolaborasi baru.
Hal tersebut menjadi penting dalam pengembangan pasar modal Indonesia agar semakin responsif terhadap kebutuhan investor dan selaras dengan perkembangan standar pasar modal global.
ICMS 2026 menghadirkan perspektif global dari perwakilan J.P. Morgan, UBS, MUFG, Hong Kong Exchanges and Clearing Limited (HKEX), Simpson Thacher & Bartlett LLP, dan Ropes & Gray.
Para pembicara membahas berbagai faktor yang mempengaruhi kepercayaan dan keputusan investasi global, termasuk perkembangan investasi di emerging markets, alokasi modal, tata kelola, aksesibilitas pasar, serta standar internasional dan praktik terbaik global.
Baca juga: BEI kaji dua skema masuknya pemegang saham baru dalam demutualisasi
Baca juga: OJK: Belum ada investor ajukan minat miliki saham BEI di atas 5 persen
Pewarta: Muhammad Heriyanto
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.







English (US) ·
Indonesian (ID) ·