Militan Houthi dalam sebuah kendaraan militer usai menguasai kota pelabuhan Mokha, Yaman. Foto dirilis ke media pada 13 September 2026.
REPUBLIKA.CO.ID, MADINAH -- Kelompok Houthi Yaman membantah telah menargetkan pembangkit listrik di kota Madinah. Sebelumnya, koalisi pimpinan Arab Saudi menuduh kelompok militan tersebut menargetkan fasilitas yang memasok listrik ke Masjid Nabawi—salah satu situs paling suci dalam dunia Islam.
Seorang pejabat senior Houthi menyebut tuduhan itu sebagai 'kebohongan' yang bertujuan mencoreng citra kelompok tersebut. Tudingan itu disebut memperkuat klaim serupa yang pernah dilontarkan koalisi di masa lalu.
Pada Kamis, juru bicara koalisi Saudi, Mayor Jenderal Turki al-Maliki, menuduh militan Yaman menyerang gardu distribusi listrik Taibah di Madinah awal pekan ini. Ia menyebut tindakan itu sebagai aksi pengecut teroris dan bagian dari dugaan kampanye lebih luas oleh Houthi untuk menargetkan Dua Masjid Suci.
Pada pertengahan September, Arab Saudi juga menuduh Houthi meluncurkan pesawat nirawak (drone) ke arah kota suci Makkah. Pihak Saudi menyatakan bahwa pesawat nirawak tersebut berhasil dicegat dan dihancurkan.
Pemimpin gerakan Yaman tersebut, Abdel-Malik al-Houthi, menepis klaim itu sebagai kebohongan keji dalam pidato yang disiarkan televisi saat itu. Ia menuding Riyadh sedang menjadikan kebohongan sebagai senjata demi mengegolkan agenda mereka sendiri.
Perkembangan di Yaman memicu kekhawatiran di Turki dan Pakistan, negara-negara yang menandatangani perjanjian pertahanan bersama dengan Arab Saudi pada bulan Agustus.
Saat berpidato di hadapan Majelis Umum PBB pekan lalu, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menyebut segala bentuk ancaman terhadap kesucian kota suci umat Islam, Makkah dan Madinah, sebagai garis merah yang tidak boleh dilanggar.

2 jam yang lalu
2







English (US) ·
Indonesian (ID) ·