Banjir Kembali Rendam Padang, Warga Soroti Pemulihan Pascabencana yang Belum Tuntas

1 jam yang lalu 2

Jakarta, NU Online

Hujan berintensitas tinggi yang mengguyur Kota Padang, Sumatra Barat, pada Senin (3/8/2026) lalu memicu banjir di sejumlah wilayah. Luapan sungai menggenangi kawasan permukiman dengan tinggi muka air mencapai sekitar 1,5 meter di Kecamatan Kuranji, Koto Tangah, Bungus Teluk Kabung, Lubuk Begalung, dan Nanggalo.


Warga Kota Padang, Albert Reza, menilai banjir yang kembali terjadi tidak semata-mata dipicu oleh cuaca ekstrem. Menurutnya, masih terdapat persoalan pemulihan pascabanjir besar pada November 2025 yang hingga kini belum sepenuhnya terselesaikan, seperti normalisasi sungai, perbaikan infrastruktur, dan pemulihan layanan air bersih.


"Berarti banjir ini sebenarnya masih ada sangkut pautnya dengan banjir akhir tahun kemarin atau tujuh bulan yang lalu, ditambah pemulihannya juga belum selesai atau belum maksimal. Jadi, hujan sedikit saja air sudah cepat naik. Memang di beberapa titik banjirnya juga cepat surut," ungkapnya kepada NU Online, Kamis (6/8/2026).


Reza mengatakan wilayah yang terdampak paling parah berada di Kecamatan Kuranji karena lokasinya berdekatan dengan Sungai Kuranji.


Menurutnya, endapan yang masih menumpuk di alur sungai turut meningkatkan risiko luapan ketika hujan deras mengguyur kawasan tersebut.


"Daerah yang terdampak parah banjir kemarin itu di Kuranji karena dekat dengan Sungai Kuranji. Kondisi wilayahnya hampir sejajar dengan permukaan sungai. Kemungkinan air sudah melimpah ditambah endapan di sungai yang masih tinggi," katanya.


Ia juga mengungkapkan bahwa pada banjir kali ini masih ditemukan kayu gelondongan, meski ukurannya lebih kecil dibandingkan material yang terbawa saat banjir besar pada akhir 2025.


"Dugaan saya, kayu-kayu itu merupakan sisa banjir akhir tahun lalu yang belum seluruhnya terbawa hingga ke hilir. Saat banjir kemarin, material itu kembali hanyut," tutur Ketua Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kota Padang tersebut.


Selain persoalan sedimentasi sungai, Reza menyoroti penanganan pascabencana yang dinilainya belum tuntas, termasuk pemulihan layanan air bersih.


Menurutnya, banyak warga masih bergantung pada layanan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), sementara kualitas layanan belum sepenuhnya pulih sejak banjir besar tahun lalu.


"Banjir kemarin menunjukkan bahwa penanganan bencana tujuh bulan lalu hingga sekarang belum tuntas, belum maksimal," tegasnya.


Ia berharap pemerintah daerah maupun pemerintah pusat lebih serius menuntaskan dampak bencana yang masih dirasakan masyarakat.


"Pemerintah Kota Padang, Pemerintah Provinsi Sumatra Barat, hingga pemerintah pusat perlu lebih serius menangani dampak yang masih tersisa dari banjir tujuh bulan lalu, termasuk melakukan pengerukan sungai. Perbaikan jembatan juga harus dipercepat karena sampai sekarang masih ada jembatan yang putus," pungkasnya.

Baca Artikel Selengkapnya