Jakarta, CNN Indonesia --
Amerika Serikat mengirim lebih dari 25.000 sistem nirawak (drone) dan teknologi anti-drone kepada pasukan militer Amerika Serikat (AS) di Timur Tengah sepanjang tahun ini.
Pengiriman "besar-besaran" ini dilakukan setelah Pentagon (Kementerian Pertahanan AS) menggelontorkan investasi sebesar US$782 juta (Rp14 triliun).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pentagon mengumumkan pengiriman tersebut pada Rabu (4/11). Langkah ini menjadi bagian dari upaya AS memperkuat kemampuan militernya dalam menghadapi ancaman serangan drone sekaligus memperluas penggunaan teknologi nirawak di medan perang.
Dikutip dari Anadolu Agency, pengiriman tersebut mencakup lebih dari 1.300 kendaraan udara nirawak (UAV) untuk serangan satu arah, lebih dari 100 kapal permukaan dan bawah laut nirawak, serta lebih dari 24.000 sistem anti-drone.
Sistem anti-drone tersebut dirancang untuk melindungi pasukan AS dari serangan pesawat nirawak milik musuh.
Pentagon menyalurkan berbagai kemampuan tempur tersebut melalui Manajer Portofolio Pelaporan Langsung untuk Sistem Tanpa Awak (Direct Reporting Portfolio Manager for Unmanned Systems/DRPM-UxS). Sementara itu, operasi pertahanan anti drone didukung oleh Joint Interagency Task Force 401.
Pentagon mengatakan program ini mencerminkan perubahan strategi pengadaan alat pertahanan AS. Pemerintah kini berupaya mempercepat proses pengadaan sekaligus meningkatkan produksi massal sistem nirawak dengan biaya lebih terjangkau.
Langkah tersebut diharapkan dapat memberikan tambahan kemampuan tempur kepada para komandan militer. Selain itu, penggunaan sistem nirawak yang lebih murah juga dapat mengurangi ketergantungan militer AS pada persenjataan konvensional yang membutuhkan biaya besar.
"Di bawah arahan Wakil Menteri (Pete) Hegseth, kami bergerak dengan kecepatan pertempuran modern untuk melengkapi pasukan kami dengan kekuatan yang menentukan dan terjangkau," kata CEO Project Agincourt sekaligus DRPM-UxS, Owen West.
Upaya memperkuat teknologi nirawak tersebut juga berkaitan dengan rencana pembentukan Komando Perang Otonom (Autonomous Warfare Command/AUTOWARCOM), sebuah komando tempur bintang empat.
Pentagon mengusulkan pembentukan komando tersebut dan diharapkan mulai beroperasi pada 1 Oktober 2027.
Pentagon menegaskan pengiriman sistem nirawak ke Komando Pusat AS (United States Central Command/CENTCOM) akan terus berlanjut. Pemerintah AS juga berencana memperluas penggunaan sistem nirawak dan otonom untuk pasukan militernya di kawasan Indo-Pasifik, Eropa, serta seluruh Pasukan Gabungan AS.
(mge/dna)

1 jam yang lalu
4






English (US) ·
Indonesian (ID) ·