Arab Saudi Perpanjang Penutupan Bandara Riyadh Imbas Serangan Rudal

54 menit yang lalu 2

Jakarta, CNN Indonesia --

Arab Saudi memperpanjang penutupan Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, setelah serangan rudal yang diduga dilancarkan kelompok Houthi, Sabtu (10/10). Serangan itu menewaskan 12 orang dan melukai lebih dari 300 orang.

Penutupan Bandara Internasional King Khalid diperpanjang hingga setidaknya pukul 21.00 waktu setempat pada Minggu (11/10).

Serangan tersebut menewaskan warga dari sejumlah negara. Otoritas Arab Saudi menyebut korban meninggal terdiri dari empat warga Saudi, dua warga Bangladesh, serta masing-masing satu warga Palestina, Amerika Serikat, Mesir, Yordania, Suriah, dan Sudan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sejumlah rumah sakit setempat dilaporkan masih menangani korban luka akibat serangan tersebut.

Koalisi pimpinan Arab Saudi yang beroperasi di Yaman menyalahkan kelompok Houthi atas serangan itu. Insiden tersebut menjadi serangan paling mematikan di negara-negara Arab Teluk sejak perang Iran dimulai.

Serangan ini juga menjadi yang terbaru dari serangkaian serangan terhadap Bandara Internasional King Khalid dalam sepekan terakhir.

Kelompok Houthi kembali mengancam akan meningkatkan serangan setelah insiden tersebut. Juru bicara militer Houthi, Brigadir Jenderal Yahya Saree, menyebut bandara-bandara Arab Saudi sebagai target serangan.

Ia juga memperingatkan masyarakat agar memperhatikan ancaman yang disampaikan kelompok tersebut. "Setiap orang harus menanggapi peringatan kami dengan serius," kata Saree, seperti dilansir AP News.

Serangan terhadap bandara itu menuai kecaman dari sejumlah pemimpin dan negara, termasuk Irak, Lebanon, dan Suriah. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres dan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen juga mengecam serangan tersebut.

Von der Leyen mengatakan serangan yang dilakukan kelompok-kelompok yang didukung Iran berisiko memperburuk kekerasan di kawasan.

"Serangan oleh proksi Iran mendorong kawasan ini ke dalam pusaran kekerasan," tulis Von der Leyen melalui media sosial X pada Minggu (11/10).

Ia menambahkan serangan tersebut mengganggu pusat transportasi dan energi global yang penting.

Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan sedang mempertimbangkan kemungkinan bergabung dalam serangan Arab Saudi terhadap kelompok pemberontak tersebut.

Di tengah meningkatnya ketegangan, Kementerian Kesehatan yang dikelola Houthi menyatakan 91 warga Yaman tewas dan 168 lainnya terluka akibat serangan koalisi pimpinan Arab Saudi selama lima pekan terakhir.

Menurut kementerian tersebut, sekitar 60 persen korban meninggal merupakan perempuan dan anak-anak.

Serangan terhadap bandara Riyadh turut memicu kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan dan pasar global. Arab Saudi merupakan eksportir minyak mentah terbesar di dunia, sementara rangkaian serangan dalam konflik tersebut telah mendorong kenaikan harga minyak dan mengguncang pasar.

(anm/wiw)

Baca Artikel Selengkapnya