Analis: Koreksi IHSG kombinasi rebalancing aset dan risk off investor

1 jam yang lalu 2
Pasar masih membutuhkan katalis positif yang kuat, terutama dari sisi perbaikan kepercayaan investor, stabilitas nilai tukar rupiah, serta konsistensi reformasi pasar modal

Jakarta (ANTARA) - Koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) disebabkan oleh kombinasi sentimen antara lain penyesuaian portofolio (rebalancing aset), profit taking, dan masih tingginya sikap risk-off investor, kata Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta.

Nafan mengatakan, apabila tekanan jual masih berlanjut dan indeks belum mampu kembali menembus area psikologis 5.000 secara konsisten, maka volatilitas berpotensi tetap tinggi.

“Sebaliknya, pemulihan yang disertai peningkatan volume transaksi dan akumulasi saham-saham berkapitalisasi besar dapat menjadi indikasi membaiknya kepercayaan pasar,” ujar Nafan saat dihubungi oleh Antara di Jakarta, Selasa.

Hingga akhir tahun, Nafan melihat IHSG masih akan menghadapi tantangan untuk membangun momentum pemulihan yang berkelanjutan.

“Pasar masih membutuhkan katalis positif yang kuat, terutama dari sisi perbaikan kepercayaan investor, stabilitas nilai tukar rupiah, serta konsistensi reformasi pasar modal,” ujar Nafan.

Ia menyebut beberapa sentimen utama yang perlu dicermati investor, yaitu pertama, perkembangan evaluasi MSCI terhadap status pasar modal Indonesia, terutama terkait kemungkinan reklasifikasi dari Emerging Market menjadi Standalone Market.

Kedua, perkembangan kebijakan regulator mengenai peningkatan free float, transparansi kepemilikan saham, dan kualitas tata kelola emiten.

Kemudian, ketiga, potensi berlanjutnya capital outflow atau net foreign sell yang dapat memberikan tekanan terhadap saham-saham berkapitalisasi besar.

Ke empat, dinamika suku bunga global, kebijakan The Fed, serta pergerakan nilai tukar Rupiah yang berpengaruh terhadap persepsi risiko investasi di Indonesia.

Selanjutnya, kelima, perkembangan geopolitik dan harga komoditas global, yang dapat mempengaruhi prospek kinerja emiten di sektor energi, pertambangan, dan industri pengolahan.

Seiring dengan sejumlah sentimen itu, Nafan memproyeksikan volatilitas IHSG masih akan relatif tinggi hingga akhir 2026.

Ia menyebut pemulihan indeks akan sangat bergantung pada keberhasilan reformasi pasar modal dalam mengembalikan kepercayaan investor institusional, khususnya investor asing.

“Investor sebaiknya tidak terburu-buru melakukan akumulasi secara agresif dan lebih mengutamakan strategi buy on weakness secara bertahap terhadap saham dengan fundamental kuat, valuasi menarik, serta likuiditas yang memadai,” ujar Nafan

Untuk saham-saham kategori High Shareholding Concentration (HSC), Nafan mengingatkan investor tetap perlu melakukan seleksi secara cermat.

Ia menyebut perlu dipahami bahwa dikeluarkannya saham HSC dari perhitungan IHSG bukan berarti saham tersebut otomatis tidak layak investasi atau tidak lagi dapat diperdagangkan.

“Saham-saham tersebut tetap tercatat di BEI dan dapat ditransaksikan seperti biasa, tetapi pergerakan harganya tidak lagi berkontribusi terhadap perhitungan IHSG,” ujar Nafan.

Meskipun demikian, Ia mengingatkan terdapat sejumlah risiko yang perlu diperhatikan, terutama terkait keterbatasan free float, konsentrasi kepemilikan, likuiditas perdagangan, serta potensi volatilitas harga yang tinggi.

Selain itu, lanjutnya, saham-saham HSC berpotensi menghadapi tantangan dalam menarik minat investor institusional yang memiliki kebijakan investasi berbasis indeks.

“Oleh sebab itu, investor sebaiknya tidak hanya mempertimbangkan potensi capital gain, tetapi juga memperhatikan kualitas fundamental, valuasi, transparansi kepemilikan, dan prospek pertumbuhan bisnis masing-masing emiten,” ujar Nafan.

Sebagai alternatif investasi, Nafan melihat saham-saham berkapitalisasi besar dengan likuiditas relatif baik dan fundamental yang solid masih layak dicermati.

“Beberapa sektor yang dapat menjadi perhatian adalah perbankan, consumer goods, telekomunikasi, dan otomotif,” ujar Nafan.

Data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) pukul 14.45 WIB pada Selasa (3/10), IHSG tercatat melemah 179,50 poin atau 3,52 persen ke posisi 4.917,33.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1,11 juta kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 7,94 miliar lembar saham senilai Rp18,95 triliun. Sebanyak 73 saham naik 704 saham menurun, dan 186 tidak bergerak nilainya.

Baca juga: IHSG variatif di tengah pasar cermati sentimen global dan domestik

Baca juga: Pengamat: Koreksi IHSG imbas investor kurangi eksposur aset berisiko

Pewarta: Muhammad Heriyanto
Editor: Ahmad Buchori
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya