Amunisi Menipis Lawan Iran, AS Tekan Produsen Senjata Genjot Produksi

1 jam yang lalu 1

Jakarta, CNN Indonesia --

Amerika Serikat menekan perusahaan produsen senjata untuk menggenjot produksi karena amunisi hingga rudal semakin menipis lawan Iran.

Kementerian Pertahanan mendesak sejumlah kontraktor militer AS agar mempercepat produksi senjata karena persediaan semakin menipis di tengah perang melawan Iran masih berlangsung.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebuah memo yang ditulis pada Rabu oleh Wakil Menteri Pertahanan Steve Feinberg memberikan waktu paling lama 21 hari bagi para pemimpin perusahaan untuk mengajukan rencana guna "mendorong jadwal pengiriman yang jauh lebih cepat dan agresif serta/atau meningkatkan produksi untuk kemampuan-kemampuan krusial."

Memo tersebut pertama kali diberitakan oleh Washington Post, dikutip dari CNN.

"Memo tertanggal 5 Agustus itu nyata. Memo ini akan menjadi acuan bagi anggaran tahun fiskal 2028 yang diajukan ke Kongres untuk mendapatkan pendanaan, dan sepenuhnya sejalan dengan upaya berkelanjutan kami untuk membangun kembali basis industri pertahanan. Anggaran tahun fiskal 2027 yang saat ini sedang dibahas di Capitol Hill dapat mengakselerasi upaya ini secara signifikan saat ini," ujar juru bicara Pentagon, Sean Parnell, kepada CNN.

Parnell membela memo tersebut bahwa kerja sama secara langsung dengan para pemimpin industri bukanlah hal baru.

"Wakil Menteri Feinberg adalah pemimpin yang berperan penting dalam upaya tersebut; beliau memimpin kerja keras untuk membenahi sistem pengadaan kita yang rusak, ketinggalan zaman, dan sangat rumit, agar kita benar-benar dapat memproduksi senjata yang dibutuhkan oleh para prajurit kita dengan kecepatan yang dituntut oleh ancaman yang ada," ujar Parnell.

Amunisi hingga rudal AS menipis drastis

Sebelumnya, tiga sumber yang mengetahui data terkini Pentagon membeberkan bahwa sok persenjataan militer AS masih sangat menipis setelah eskalasi besar konflik dengan Iran dalam beberapa pekan terakhir. Itu termasuk persediaan rudal pertahanan udara yang krusial.

Penyelesaian mendasar untuk mengakhiri perang tersebut masih sulit dicapai, dan kelangkaan rudal ini dapat memengaruhi kemampuan AS untuk bertindak di medan konflik lainnya.

Dalam laporan yang dirilis Senin pekan lalu, para peneliti dari lembaga kajian (think tank) Center for Strategic and International Studies (CSIS) memperkirakan bahwa stok rudal pencegat Patriot milik AS kini tersisa kurang dari 827 unit, sementara rudal pencegat balistik THAAD tersisa kurang dari 278 unit.

Ketiga sumber yang mengetahui masalah ini dan meminta agar identitas mereka dirahasiakan saat membahas stok persenjataan AS, mengatakan kepada CNN bahwa perkiraan CSIS tersebut mendekati angka internal pemerintah.

Angka-angka ini mencerminkan penurunan drastis dibandingkan stok sebelum perang, yang menurut perkiraan CSIS berjumlah sekitar 2.200 rudal Patriot (dari dua varian paling modern) dan 452 rudal THAAD.

Sistem-sistem ini merupakan sarana utama militer AS untuk melumpuhkan rudal balistik musuh yang masuk. Harga setiap rudal pencegat mencapai jutaan dolar AS.

(bac)

[Gambas:Video CNN]

Baca Artikel Selengkapnya