Al-Aqsa Terancam Direbut, Yordania Kumpulkan Negara Muslim

3 jam yang lalu 8

Warga Yahudi melakukan ritual setelah menerobos Masjid al-Aqsa, Yerusalem, Kamis (23/7/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, Yordania mengadakan pertemuan darurat para menteri luar negeri dari dunia Arab dan Islam untuk membahas apa yang mereka sebut sebagai ancaman "dalam waktu dekat" berupa pengambilalihan oleh Israel atas situs Muslim terpenting di Yerusalem. Tindakan Israel itu diaebut berpotensi "memicu konflik agama". 

Pertemuan pada Rabu ini—serta peringatan dari Yordania—dilakukan menyusul pola peningkatan aksi penerobosan yang didukung pemerintah oleh kelompok ekstremis agama Yahudi ke area di sekitar Masjid Al-Aqsa dan Kubah Batu (Dome of the Rock). Tindakan ini melanggar perjanjian status quo yang diawasi oleh kerajaan Hasyimiyah Yordania, yang menetapkan bahwa hanya umat Muslim yang diperbolehkan beribadah di situs tersebut.

Pada 23 Juli lalu, lebih dari 2.000 warga Israel dari kelompok sayap kanan religius—sebagian besar adalah pemukim yang dipimpin oleh Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben Gvir—menerobos masuk ke kawasan yang oleh umat Yahudi dikenal sebagai Temple Mount (Bukit Bait Suci). Mereka memanjatkan doa dan melakukan ritual di seluruh area kompleks tersebut dalam tindakan yang disebut oleh para pejabat Yordania sebagai pelanggaran terburuk dalam sejarah modern. 

Amman juga merasa khawatir dengan upaya perekrutan warga Yahudi religius baru-baru ini untuk unit kepolisian khusus Temple Mount, serta bersiap menghadapi tantangan yang lebih langsung terhadap peran tradisional Yordania sebagai penjaga situs tersebut dari para pemimpin ekstremis Israel selama hari-hari besar Yahudi pada bulan September. 

Tahun ini, hari-hari besar tersebut akan bertepatan dengan masa kampanye pemilu yang sengit, di mana koalisi sayap kanan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu akan berjuang untuk mempertahankan kekuasaan. 

"Ini adalah ancaman yang terus-menerus, ancaman berbahaya yang coba kami tangkal dengan segala cara yang kami miliki," ujar Menteri Luar Negeri Yordania, Ayman Safadi, kepada The Guardian.

"Kami memperingatkan bahwa tindakan mengusik status quo... dapat memicu konflik keagamaan yang dampaknya akan meluas melampaui Palestina dan Yordania hingga ke seluruh dunia Muslim." 

Safadi, yang akan memimpin pertemuan darurat pada Rabu—yang mempertemukan para mitranya dari negara-negara Liga Arab serta Turki, Indonesia, Malaysia, dan Pakistan—menyatakan bahwa hal ini merupakan "sesuatu yang harus disadari oleh seluruh komunitas internasional. Yerusalem adalah kawasan yang sangat rawan memicu ledakan konflik." 

"Kami berupaya menjelaskan bahaya yang ada. Kami melakukan protes secara sah. Kami berusaha membangun kesadaran mengenai bahaya nyata yang timbul dari berlanjutnya langkah-langkah Israel tersebut.”

Baca Artikel Selengkapnya