4 Taktik Trump Coba Jegal Demokrat Menang di Pemilu Sela AS

1 jam yang lalu 1
Jakarta, CNN Indonesia --

Partai Republik dan Presiden Amerika Serikat saat ini Donald Trump kalang kabut dan berupaya keras menjegal Partai Demokrat yang tampak bangkit dan mendulang banyak suara di pemilihan sela atau paruh waktu (midterm election) yang digelar besok, Selasa (3/11).

Pemilu sela bukan hanya untuk memilih senat dan dewan perwakilan (DPR), tetapi untuk memilih berbagai posisi pemerintahan di tingkat federal, negara bagian, hingga lokal.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sejumlah jajak pendapat dan para pengamat memprediksi Demokrat akan menang dalam pemilihan ini. Survei yang dilakukan RealClearPolling menunjukkan partai dengan logo biru itu memimpin 51,5 persen dan lawannya ada di angka 43,1 persen.

Lalu, bagaimana taktik Trump dan partainya untuk mengalahkan Demokrat di pemilu sela ini?

Ancam pejabat lokal

Menurut laporan situs lembaga think tank, Atlantic, Trump berupaya menggunakan kekuatan negara untuk mengamankan kemenangan elektoral bagi partainya.

Mereka telah mencoba melemahkan penggunaan pemungutan suara melalui pos secara luas; menuntut agar negara bagian menyerahkan daftar pemilih; mengancam akan menuntut pejabat pemilihan negara bagian dan lokal; menolak untuk mengesampingkan gagasan mengerahkan pasukan atau agen federal ke tempat pemungutan suara; dan mempublikasikan penangkapan dramatis sejumlah kecil orang yang dituduh memilih atau mendaftar untuk memilih sebagai bukan warga negara.

The Guardian mencatat upaya yudisial paling agresif pemerintahan Trump untuk mencampuri pemilihan sejauh ini terjadi di Alaska pada Oktober lalu.

Saat itu, mereka mengambil langkah luar biasa dengan meminta pengadilan federal untuk turun tangan sebelum hari pemilihan dan memblokir pengesahan jika kandidat Republik kalah.

4 Cara Trump Coba Jegal Demokrat di Pemilu Sela AS

Abdul El Sayed, kandidat Senat Michigan dari Demokrat yang dibenci Trump. (Foto: REUTERS/Rebecca Cook)

Kasih 'serangan fajar' Rp90 juta per orang

Saat kampanye di Iowa dan Kansas, Trump sesumbar akan memberi US$5000 atau sekitar Rp90 juta untuk setiap warga negara AS jika mereka menang di pemilihan.

Partai Republik telah mengumpulkan dana dan mengeluarkan dana lebih banyak daripada Partai Demokrat selama siklus pemilihan paruh waktu tahun ini.

Salah satunya berasal dari bos Tesla sekaligus media sosial X Elon Musk. Dia telah memberi hampir US$ 500 juta untuk membantu Partai Republik menang dalam pemilu sela.

Komite Nasional Partai Republik menerima sekitar $341 juta dan menghabiskan sekitar $303 juta, per tanggal 14 Oktober, demikian dikutip Al Jazeera.

Serang identitas hingga cap lawan teroris

Trump sampai turun gunung ikut kampanye langsung di negara bagian Iowa dan Kansas yang merupakan lumbung suara Republik.

"Saya akan bertolak ke Iowa, dan kemudian-yang tak kalah penting-ke Kansas (ini akan menjadi perhentian terakhir saya!), untuk memastikan para Patriot hebat kita turun memberikan suara bagi kandidat-kandidat yang sungguh luar biasa," kata Trump pada Minggu.

Kampanye-kampanye Republik juga ditandai dengan bahasa yang pedas dan penuh hinaan. Para anggota dan Trump menuduh kandidat-kandidat Demokrat terkemuka sebagai radikal hingga pro-teroris.

Trump pernah memaki-maki calon senat Michigan El Sayed dan salah menyebut nama depan dia dari yang asalnya Abdul jadi Mohammed.

"Dia adalah ekstremis radikal, simpatisan teroris, dan tidak berbeda dengan sahabatnya, Hasan Piker yang membenci Amerika."

Lebih lanjut, Trump mengatakan nilai-nilai El Sayed tak sesuai dengan nilai-nilai warga Michigan, atau nilai-nilai Amerika Serikat.

Tuduh Demokrat komunis

Trump juga berulang kali menuduh Demokrat membuat Amerika Serikat menjadi negara komunis. Dia juga menuding anggota partai ini komunis radikal.

"Jadi, Partai Demokrat membenci negara kita. Mereka komunis. Mereka orang-orang gila sayap kiri radikal," kata dia pada September lalu, dikutip The Guardian.

Komunisme selalu menjadi momok dalam politik AS dengan cara yang berbeda dari di Eropa, misalnya, setiap pemerintahan yang memproklamirkan diri sebagai komunis dianggap gagal.

Baca Artikel Selengkapnya